Operator radio amatir kebanyakan lebih memilih untuk beroperasi pada mode SSB (single sideband) dan CW, karena membawa sinyal melalui jarak yang lebih jauh bila dibanding mode AM untuk daya pemancar yang sama. Radio Penerima siaran SW biasa tidak ditujukan untuk langsung menerima transmisi pada SSB dan CW (kode Morse). radio Gelombang pendek atau shortwave pada umumnya memerlukan tambahan alat jika ingin dijadikan SSB CW receiver, yaitu dengan BFO (beat oscillator frequency), yang merupakan osilator RF dari jenis konvensional. Output dari BFO yang heterodyned bercampur dengan frekuensi lain untuk memperoleh frekuensi akhir (selisih dari dua frekuensi) terbentang dalam kisaran audio (sekitar 1kHz). Radio percakapan komunikasi amatir (HAM) mode SSB jika kita dengarkan pada radio Shortwave biasa maka akan terdengar seperti suara ‘kwek Bebek’ dan tidak terdengar jelas. radio SW biasa ditujukan untuk menerima sinyal di mode AM saja dan tidak menerima sinyal mode SSB. sebuah unit terpisah diperlukan pada tahap ‘Detector’ dari penerima AM, yang tidak lain adalah ‘Generator Frekuensi’ stabil ( RF Oscillator), yang disebut ‘Beat Frequency Oscillator’ (BFO). BFO ini digunakan untuk menampilkan ‘Frekuensi carrier lokal’ (frekuensi SSB umumnya adalah 10 sampai 20 Hertz selisih dari frekuensi carrier pemancar yang dihilangkan pada pemancar stasiun radio amatir dengan tujuan untuk menghemat daya).

Teknik lain yang populer untuk mendengarkan stasiun amatir SSB pada radio penerima biasa adalah dengan menggunakan dua set radio. dalam teknik improvisasi, satu set radio bertindak sebagai BFO, yang lain bertindak sebagai penerima SSB. kedua radio tersebut harus diletakkan secara berdekatan. Kontrol volume tombol set radio yang digunakan sebagai BFO harus disetel pada minimum. Biasanya radio saku 3 band (AM/FM/SW) dapat sesuai digunakan sebagai BFO.

BFO dapat digunakan untuk mendapatkan catatan audio dari penerimaan CW dan juga untuk mengatasi sinyal SSB. Sebuah sinyal SSB ditransmisikan tanpa sinyal pembawa (carrier). Dalam receiver biasa, tidak menghasilkan suara yang jelas. Ketika BFO di hidupkan maka sinyal ter-heterodyne dengan sinyal SSB, ini bertindak seperti RF pembawa dan sinyal SSB bisa diselesaikan dengan baik sehingga bisa didengarkan.
Berikut ini adalah rangkaian BFO dari Jim G4NWJ, seperti yang terlihat pada link berikut:
http://www.hanssummers.com/superdrg/superdrgbfo.html

dibawah ini adalah rangkaian BFO Jim G4NWJ yang sudah saya tambahi sendiri dengan antenna dan LED:

rangkaian cukup sederhana, transistor 2N2222 bisa diganti dengan BC109. untuk 455KHz IF can (trafo IF) bisa menggunakan inti yang warna kuning atau hitam, biasanya yang warna kuning ada di radio AM. saya sendiri memakai 455KHz IF can dengan inti yang warna kuning, saya ambil dari board radio tape bekas yang sudah rusak. hubungkan body trafo IF dengan ground. transistor yang saya gunakan BC109C. antenna BFO bisa dari kabel atau kawat dengan panjang 20 cm, dekatkan dengan radio. jika sinyal BFO terlalu kuat, jauhkan antenna BFO beberapa cm dari radio. untuk meminimalisir distorsi audio pada saat radio receiver menerima sinyal SSB, pastikan rangkaian BFO mempunyai grounding yang baik, kalau perlu buat ruang untuk grounding yang cukup luas di PCB BFO.

Untuk mengoperasikan alat ini, pertama-tama dengarkan SSB yang diinginkan (terdeteksi dari suara kwek bebek) atau sinyal CW di radio penerima SW. aktifkan BFO, tala akhir sekarang dilakukan dengan memutar inti trafo IF (IF can) pada BFO sampai SSB terdengar “audibel”. sesuaikan tuning pada radio penerima untuk mendapat hasil terbaik. penyesuaian tuning harus dilakukan secara perlahan, karena bandwidth sinyal SSB memang sangat sempit, apalagi kalau jenis radio penerimanya adalah jenis radio analog pocket atau portabel. kalau knob tuning pada radio penerima terlalu kecil diameternya, maka sebaiknya diganti dengan knob yang diameternya lebih besar supaya lebih mudah dan halus dalam penalaan frekuensi SSB. bisa juga dengan menambah “fine tuning”, seperti pada referensi di link berikut:
http://hanssummers.com/superdrg/superdrgfinetune.html
pada titik di mana sinyal osilator BFO 455KHz terdengar mem-beat atau mencampur dengan transmisi SSB, maka kita bisa mendengarkan komunikasi SSB tersebut. untuk mode CW, tuning tidak terlalu kritis, penyesuaian di sekitar frekuensi transmisi hanya akan mengubah pitch suara.Tapi untuk penerimaan yang baik di SSB, tuning cukup kritis.

Kopling langsung dari output BFO ke antenna radio receiver tidak diperlukan, karena bisa menyebabkan gangguan pada radio receiver. jika sinyal BFO terlalu kuat, jauhkan antenna BFO beberapa cm dari radio. di bawah ini adalah foto rangkaian BFO yang saya rakit sendiri

Performance: untuk performa dan efektivitas BFO untuk me-resolve SSB pada radio penerima tergantung banyak faktor: seperti propagasi, antenna, sensitivitas radio penerima, frequency drift, penalaan, catu daya. untuk stabilitas BFO sebaiknya gunakan catu daya dari baterai dengan kapasitas yang besar, saya sendiri menggunakan baterai 4,1 Volt 4800mAH (saya ambil dari cell baterai laptop bekas dan kondisinya ternyata masih bagus). beberapa versi BFO lainnya bahkan ada yang menggunakan dioda zener, kristal, dan keramik filter untuk menstabilkan BFO. radio pocket atau radio portabel yang berharga murah biasanya juga punya masalah pada pergeseran frekuensi (frequency drift) setelah dinyalakan dalam beberapa waktu. untuk penerimaan SSB sebaiknya gunakan radio receiver yang punya kestabilan frekuensi yang baik. dari pengalaman saya, dengan radio portabel analog 10 band merk Tens (identik dengan radio Sangean SG-789), BFO, dan hanya dengan antenna kabel panjang sekitar 2,5 meter, pada pagi hari saya bisa mendengarkan komunikasi dari stasiun amatir SSB pada frekuensi sekitar 7,0 MHz dan 6,2 MHz dari daerah Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Sumatra dengan cukup jelas dan baik. lokasi saya berada di kota Cepu Jawa Tengah. untuk siang hari dan sore hari, saya hanya bisa menangkap stasiun SSB dari pulau Jawa saja, apakah hal ini karena pengaruh dari propagasi? mungkin saja…
kadang-kadang di beberapa frekuensi HF lainnya, saya juga bisa memonitor frekuensi komunikasi SSB pelayaran yang sedang aktif dengan radio ini.

untuk meningkatkan performa penerimaan, silakan gunakan antenna kabel. semakin panjang semakin bagus hasilnya. koneksikan ke input eksternal antenna yang ada di receiver, jika tidak ada input eksternal antenna pada receiver, maka bisa dibuat sendiri dengan menambah kopling kapasitor 47 pF dan diseri dengan antenna kabel, kemudian ujung kapasitor lainnya dihubungkan pada antenna whip telescopic radio.

cara lain dengan dua radio untuk meresolve SSB
untuk cara yang ini belum saya coba, tapi dari beberapa referensi mengatakan cara ini juga bisa digunakan untuk me-resolve SSB di radio receiver SW biasa. Pertama, kita akan membutuhkan antenna luar atau antenna kabel eksternal. Karena perangkat radio penerima portabel SW yang biasa umumnya tidak sensitif untuk menerima transmisi daya yang rendah seperti pada stasiun SSB. Sebagian besar amatir menggunakan daya di bawah 100 watt (stasiun broadscast dapat menggunakan 4000 atau 5000 watt!). Seorang operator radio amatir pemula dapat ditemukan beroperasi dengan daya serendah 0,5 watt! Langkah pertama adalah untuk menemukan transmisi radio SSB pada radio penerima utama (pencarian untuk audio seperti “ber-kwek bebek”) disetel ke frekuensi SSB ( masing-masing di 40m band atau 20m band , yaitu antara 7,0-7,1 MHz atau 14,0-14,3 MHz).  dari pengalaman saya sendiri kalau sore dan pagi hari biasanya banyak radio amatir SSB yang mengudara di frekuensi di antara 6 MHz sampai 7 MHz bahkan kadang sampai tengah malam , cari saja ke frekuensi pada range tersebut kalau ingin mendengarkan SSB. Setelah stasiun amatir kuat telah terdeteksi, langkah berikutnya adalah untuk membawa penerima saku (yang volumenya sudah dikecilkan) di dekat ke penerima utama. Set radio saku juga harus disetel ke frekuensi yang dekat dengan frekuensi di mana transmisi amatir SSB diterima. Dengan cara ini, frekuensi yang dihasilkan oleh osilator lokal dari radio saku dapat dibuat untuk menghasilkan efek heterodyne dalam penerima utama sehingga membuat sinyal SSB bisa audibel. Teknik ini tentu saja membutuhkan kesabaran Anda.

untuk desain lain dari BFO, bisa anda cari sendiri referensinya di Google. cukup banyak mulai dari menggunakan crystal sampai filter keramik.
—-00——
silakan kunjungi juga posting menarik lainnya berikut ini:

>> Radio receiver dan hobby monitoring frekuensi radio

>> Sudah Jutaan Rupiah saya raup dari situs survey online ini

>> Menulis & memposting  artikel bisa menghasilkan Dollar

>> Kumpulan artikel tentang tanaman dan buah Strawberry

>> The Benefits Binoculars for Astronomy Part I

>> Aneka antenna wifi untuk nembak hotspot atau RTRWnet

>> Manfaat buah Mangga untuk kesehatan

>> Deep Space Objects on Big Dipper Part I

>> Orion Nebula, One of The Most Photographed Celestial Object

Saya mungkin bisa dibilang seorang penggemar, pehobi, pendengar siaran dan juga monitoring frekuensi radio. mungkin ada sebagian orang yang menganggap bahwa hobby monitoring frekuensi radio adalah hobby yang mahal, dikarenakan harga scanner yang bisa sampai jutaan Rupiah. tapi bagi saya hobby monitoring itu tidak harus mahal atau harus mengeluarkan isi dompet dalam-dalam…
saya sangat terbantu oleh adanya Internet, karena telah memberi banyak informasi tentang apa saja yang saya ingin tahu tentang elektronika, radio, dan radio komunikasi. walaupun saya bukanlah salah satu kolektor radio yang mungkin telah memiliki atau mengoleksi perangkat radio receiver yang jumlahnya banyak.
monitoring frekuensi radio termasuk salah satu hobby saya sejak kecil. waktu zaman saya masih sekolah dulu, saya suka sekali mendengarkan siaran radio SW lewat radio transistor 5 band jadul milik ayah saya.
radio tersebut sepertinya diproduksi kira-kira pada era tahun 1980an, merknya National Panasonic tipe RF-4535B. dulu waktu saya masih kecil, radio tersebut digunakan oleh Ayah saya untuk mendengarkan siaran radio SW luar negeri. mungkin anda juga pernah mendengarkan band SW (short wave) pada siaran radio Australia bahasa Indonesia atau VOA Amerika?

kelebihan radio ini sangat peka atau sensitif menerima sinyal Radio karena sudah dilengkapi juga dengan RF amplifier built-in, bahkan dulu saya sering memonitor radio komunikasi amatir 80 meter (3,5 MHz) dengan radio itu hanya dengan antenna telescopic. saya bisa mendengar beberapa pemancar 80 meter band dari berbagai kota di pulau Jawa bahkan dari pulau Madura juga. yang membuat saya tertarik pada saat itu adalah komunikasi yang bisa menjangkau jarak jauh, berasal dari luar kota yang jaraknya cukup jauh dari lokasi tempat tinggal saya. untuk penerimaan SSB akan terasa aneh terdengar lewat radio ini, karena suaranya akan mirip dengan “suara bebek”, maklum radio ini bukan radio penerima yang dilengkapi dengan BFO, jadi tidak bisa digunakan secara full untuk penerimaan di mode SSB, sayang sekali padahal untuk pemancar yang pakai SSB banyak yang tertangkap di radio ini. walaupun radio ini masih bisa hidup sampai sekarang akan tetapi sebagian besar modulasinya sudah hilang, mungkin ada komponen yang sudah saatnya diganti.
bagaimanapun radio ini banyak meninggalkan banyak kenangan masa kecil.

untuk saat ini saya masih suka memonitor frekuensi radio, walaupun hanya beberapa jalur (band) yang bisa saya dengarkan oleh karena keterbatasan alat yang saya punya. frekuensi yang bisa jangkau ada di jalur HF, VHF, UHF karena memang perangkat radio receiver yang saya punyai sudah mendukung band tersebut.
HF AM di 80 meter band, VHF FM 68 MHz – 108 MHz, VHF AM Airband, VHF FM 136 MHz – 174 MHz, UHF FM 400 MHz – 470 MHz.

pada foto diatas menunjukkan beberapa radio receiver yang saya punyai saat ini. yaitu Weierwei UV-3R VHF/UHF transceiver, Tens FM stereo/AM/SW receiver, dan VHF Airband Super-Regenerative receiver. mungkin akan lebih praktis kalau pakai scanner all band all mode, cukup satu tapi bisa semua. tapi kalau soal harga pastilah scanner seperti itu tergolong cukup mahal…. OK, saya bahas satu-persatu radio receiver yang saya punya berikut dibawah ini:

Super-Regenerative Airband Receiver portabel
radio penerima Airband ini merupakan hasil buatan saya sendiri, cukup sederhana rangkaiannya dan Super-regenerative receiver sudah terkenal dengan sensitivity-nya. untuk lebih jelasnya silakan lihat pada posting saya yang berjudul “membuat radio airband receiver portabel“, untuk membacanya silakan klik DISINI.

kelebihan: rangkaian sederhana, mudah dibuat, minim komponen, sensitifitas atau kepekaan cukup tinggi, bisa dibuat sangat portabel.
kekurangan: selektifitas kurang baik, sangat kontras dengan radio receiver jenis heterodyne.
bagi yang belum kenal dengan radio jenis super-regenerative pasti akan mengalami kesulitan mengoperasikannya untuk pertama kali. rangkaian yang berperan sebagai detector AM, juga merupakan osilator (pemancar aktif) sehingga bisa menimbulkan interferensi. interferensi ini sebenarnya bisa dicegah dengan menambah rangkaian RF stage di antara detector dengan antenna, seperti yang sering ditemui pada radio super-regenerative receiver rancangan Charles Kitchin N1TEV.

jenis radio receiver Airband lainnya yang tidak menimbulkan interferensi adalah “The Passive Aircraft Receiver”, rangkaiannya bisa dilihat di link berikut:
http://www.techlib.com/electronics/aircraft.htm
kelebihan rangkaian tersebut adalah tidak menginterferensi komunikasi pesawat sehingga aman dibawa kemanapun termasuk di dalam cockpit pesawat terbang (aircraft). kekurangannya adalah sensitifitas penerimaan sinyal yang kurang, hanya bisa menangkap sinyal yang kuat atau dekat saja. untuk meningkatkan kepekaan penerimaan sinyal untuk Passive Aircraft Receiver (Airband), maka diperlukan rangkaian tambahan VHF airband RF pre-amplifier. rangkaian tambahan VHF airband RF pre-amplifier yang saya sarankan bisa dilihat dengan klik DISINI.

Tens portabel receiver FM stereo/MW/SW
Tens portabel receiver ini mungkin bisa dibilang termasuk radio lawas, buatan era 90an yang masih menggunakan transistor dan komponen non SMD. jadi kalau dibandingkan dengan Radio Receiver SW yang lebih modern semacam Tecsun PL 660, Sony ICF 7600G, Sangean ATS505, Grundig G6 atau Degen DE1103, tentu sangat jauh bedanya…
untuk membandingkan performa dari berbagai model radio receiver; KA11, DE1105, G6 Aviator, KA1101, PL-450, KA1102, DE1103, DE1121, PL-600, PT-80, G4000A, ATS-909X, ATS-505P, RP2100, Satellit 750, G3, PL-660, SW7600GR, dll, silakan download file PDF pada link berikut ini:
http://www.home.comcast.net/~phils_radio_design/2011_SW_Guide.pdf
OK, kembali ke topik… radio Tens tersebut sering saya gunakan untuk mendengarkan FM radio stereo via headphone dan juga monitoring frekuensi favorit saya di 80 meter band. ramai sekali di jalur SW AM 80 meter band ini terutama kalau sore hari dan kadang pada malam dan pagi hari. tapi biasanya penerimaan yang paling bagus pada waktu tengah malam, mungkin ini berkaitan dengan propagasi dan berkurangnya interferensi/gangguan noise saat tengah malam. banyak yang terdeteksi di sekitar frekuensi 3,7 MHz sampai 4,0 MHz jumlahnya pemancar yang bisa tertangkap kadang bisa sampai sekitar 10an atau lebih (kalau pas lagi weekend atau menjelang hari libur).
kelebihan:
ukurannya mini dan portabel, selectivity bagus, penerimaan sinyal cukup sensitif walau cuma mengandalkan antenna dari kabel kawat tembaga tunggal dengan panjang sekitar 120 cm.
sound via headphone Keenion (<<– ) untuk FM stereo very excellent, bass mantap, treble terasa, dan efek sound stage juga mantap.
kelemahan: tidak support AM mode SSB, dan untuk SW tidak full band.

saya juga berencana ingin membuat radio regenerative receiver untuk penerimaan SW SSB/CW, karena sebenarnya regenerative dan super-regenerative receiver bisa difungsikan untuk penerimaan wide range all mode, yaitu: Regenerative (untuk AM/SW/CW/SSB) dan Superregenerative (untuk VHF FM broadcast/VHF aircraft).
untuk referensinya bisa dilihat pada link-link berikut:
http://www.ke3ij.com/JFETrgn.htm
http://www.mikroe.com/old/books/rrbook/chapter3/chapter3f.htm
http://pa2ohh.com/03rega.htm
http://pa2ohh.com/02reg.htm
lihat juga referensi penting lainnya pada file PDF berjudul “High Performance Regenerative Receiver Design” yang ditulis oleh Charles Kitchin N1TEV, file tersebut bisa di download di:
http://www.arrl.org/files/file/Technology/tis/info/pdf/9811qex026.pdf
untuk sumber referensi lainnya bisa langsung search di Google dengan kata kunci (keyword) “simple regenerative SW SSB receiver”.

Weierwei UV-3R VHF/UHF Tranceiver
mungkin brand yang diusung oleh HT ini belum sekelas HT branded ternama seperti Yaesu, Kenwood, Alinco atau Icom. tapi anda jangan salah kira, UV-3R termasuk salah satu HT transceiver yang mendapat sambutan cukup positif di seluruh dunia. selain kelebihannya dari segi harga yang value, ternyata kualitas penerimaan juga boleh diadu dengan HT branded lainnya. walaupun radio ini bukan scanner, tapi kalau soal penerimaan sinyal bisa dibilang cukup sensitif. dengan memakai antenna asli bawaan, saat pagi atau malam kadang saya bisa mendengarkan salah satu repeater (dengan sinyal sekitar S3 dari full s10) di jalur VHF yang kemungkinan besar menurut dugaan saya, dipasang di daerah Ungaran yang notabene terletak lebih tinggi dari kota Semarang. jarak tempat kota saya yaitu Cepu ke kota Semarang kurang lebih ada sekitar 120 Km. saya tidak tahu apakah repeater itu milik Jasamarga atau Polantas daerah Ungaran, tetapi masih berhubungan dengan lalu-lintas dan jalan di kota Ungaran dan sekitarnya. Weierwei UV-3R ini sebenarnya identik dengan UV-3R lainnya tapi dengan merk berbeda misalnya HT Baofeng UV3R. walaupun ini merupakan radio komunikasi dua arah atau biasa disebut Tranceiver, tapi saya hanya menggunakannya untuk monitoring frekuensi di jalur VHF dan UHF. menurut saya penerimaan (sensitivity) UV-3R ini sangat bagus, cuma memakai antenna bawaan saja sudah banyak frekuensi yang bisa dipantau…

setelah membaca posting saya ini, ada baiknya anda juga baca posting saya yang berjudul “Radio SW biasa bisa dijadikan SSB receiver“, silakan klik DISINI untuk mengunjungi posting tersebut.
—-0000—-

silakan kunjungi juga posting-posting saya yang lainnya:

>> Membuat radio penerima Shortwave (SW receiver) sederhana
>> Kumpulan artikel tentang tanaman dan buah Strawberry
>> Sudah Jutaan Rupiah saya raup dari situs survey online ini
>> Sudah $82.06 saya raup dari Triond via Paypal
>> Test The Speed of Flash Disk with Check Flash
>> Some Fruit That Can Sharpness Your Brain

Posting ini merupakan kelanjutan dari posting pertama saya yang membahas “Membuat Radio Airband Receiver sederhana” yang bisa dilihat dengan klik DISINI.

radio receiver jenis regenerative dan super-regenerative receiver terkenal dengan rangkaiannya yang minim komponen tetapi sangat sensitif dalam penerimaan sinyalnya, untuk itulah sangat tidak mustahil untuk membuat Radio Airband menjadi portabel dan ringkas, sehingga bisa dibawa kemana-mana. berikut adalah rangkaian radio penerima Airband yang terdiri dari detector VHF AM dan dirangkai dengan penguat Audio dengan satu transistor (BC547). output audio harus dihubungkan dengan headphone yang sensitif atau audio amplifier eksternal jika memang dirasa keluaran audio masih kurang keras. di bawah ini adalah gambar skema rangkaian super-regenerative Airband receiver, klik untuk memperbesar gambarnya

walaupun hanya menggunakan antena telescopic (whip antenna), saya masih bisa menangkap sinyal dengan cukup jelas. 

kebetulan kota saya yaitu Cepu dilalui oleh jalur penerbangan Jakarta – Surabaya, jadi tidak sulit untuk menerima sinyal di jalur Airband. hampir sepanjang hari saya dengan mudah bisa menangkap komunikasi airband. untuk menguatkan sinyal penerimaan di jalur VHF Airband agar menambah daya jangkau penerimaan, silakan lihat pada posting saya di link berikut ini:

>> VHF pre amplifier versi 1

>> VHF pre amplifier versi 2

pre amplifier atau penguat sinyal booster diatas sebenarnya digunakan untuk penerima radio FM broadcast, akan tetapi bisa juga digunakan di jalur VHF (FM broadcast, AM Airband, dan amatir 2m). saya sudah mencobanya sendiri pada radio receiver yang saya punya  <<–.

untuk PCB bisa dibuat seperti pada gambar dibawah ini (klik untuk memperbesar gambar):


perhatikan juga konfigurasi kaki (pin) dari transistor C930 dan pin transistor BC547 pada gambar dibawah ini. letak pin B, C, dan E kedua transistor tersebut adalah berbeda walaupun bentuk kemasannya sama, jadi kalau terbalik saat dipasang bisa mengakibatkan receiver tidak bisa bekerja.

untuk mengetahui cara mengoperasikan radio ini, maka silakan kunjungi posting saya yang sebelumnya di link berikut:

https://arjip.wordpress.com/2010/07/13/membuat-radio-airband-receiver-sederhana/

yang perlu anda perhatikan, bahwa jenis radio super-regenerative Airband receiver ini mengandung detector yang sekaligus bersifat sebagai osilator (pemancar aktif), sehingga berpeluang menginterferensi atau bahkan akan mengganggu komunikasi pesawat. maka dari itu jangan membawa “Radio Airband receiver portabel” ini ke dalam cockpit pesawat.

radio Airband receiver lainnya yang tidak menimbulkan interferensi adalah “The Passive Aircraft Receiver”, rangkaiannya bisa dilihat di link berikut:

http://www.techlib.com/electronics/aircraft.htm

kelebihan rangkaian tersebut adalah tidak menginterferensi komunikasi pesawat sehingga aman dibawa kemanapun termasuk di dalam cockpit pesawat terbang (aircraft). kekurangannya adalah sensitifitas penerimaan sinyal yang kurang, hanya bisa menangkap sinyal yang kuat atau jarak dekat saja.

untuk meningkatkan kepekaan penerimaan sinyal untuk Passive Aircraft Receiver (Airband), maka diperlukan rangkaian tambahan VHF airband RF pre-amplifier.

——00——-

silakan kunjungi juga posting-posting menarik berikut:

>> Test The Speed of Flash Disk with Check Flash

>> Some Fruit That Can Sharpness Your Brain 

>> Orion Nebula, One of The Most Photographed Celestial Object 

>> Bersih-bersih Windows dengan antivirus update terbaru 

>> Manfaat buah Mangga untuk kesehatan 

>> Mengapa angry bird cepat populer & banyak di download?