Radio receiver dan hobby monitoring frekuensi radio

June 3, 2012

Saya mungkin bisa dibilang seorang penggemar, pehobi, pendengar siaran dan juga monitoring frekuensi radio. mungkin ada sebagian orang yang menganggap bahwa hobby monitoring frekuensi radio adalah hobby yang mahal, dikarenakan harga scanner yang bisa sampai jutaan Rupiah. tapi bagi saya hobby monitoring itu tidak harus mahal atau harus mengeluarkan isi dompet dalam-dalam…
saya sangat terbantu oleh adanya Internet, karena telah memberi banyak informasi tentang apa saja yang saya ingin tahu tentang elektronika, radio, dan radio komunikasi. walaupun saya bukanlah salah satu kolektor radio yang mungkin telah memiliki atau mengoleksi perangkat radio receiver yang jumlahnya banyak.
monitoring frekuensi radio termasuk salah satu hobby saya sejak kecil. waktu zaman saya masih sekolah dulu, saya suka sekali mendengarkan siaran radio SW lewat radio transistor 5 band jadul milik ayah saya.
radio tersebut sepertinya diproduksi kira-kira pada era tahun 1980an, merknya National Panasonic tipe RF-4535B. dulu waktu saya masih kecil, radio tersebut digunakan oleh Ayah saya untuk mendengarkan siaran radio SW luar negeri. mungkin anda juga pernah mendengarkan band SW (short wave) pada siaran radio Australia bahasa Indonesia atau VOA Amerika?

kelebihan radio ini sangat peka atau sensitif menerima sinyal Radio karena sudah dilengkapi juga dengan RF amplifier built-in, bahkan dulu saya sering memonitor radio komunikasi amatir 80 meter (3,5 MHz) dengan radio itu hanya dengan antenna telescopic. saya bisa mendengar beberapa pemancar 80 meter band dari berbagai kota di pulau Jawa bahkan dari pulau Madura juga. yang membuat saya tertarik pada saat itu adalah komunikasi yang bisa menjangkau jarak jauh, berasal dari luar kota yang jaraknya cukup jauh dari lokasi tempat tinggal saya. untuk penerimaan SSB akan terasa aneh terdengar lewat radio ini, karena suaranya akan mirip dengan “suara bebek”, maklum radio ini bukan radio penerima yang dilengkapi dengan BFO, jadi tidak bisa digunakan secara full untuk penerimaan di mode SSB, sayang sekali padahal untuk pemancar yang pakai SSB banyak yang tertangkap di radio ini. walaupun radio ini masih bisa hidup sampai sekarang akan tetapi sebagian besar modulasinya sudah hilang, mungkin ada komponen yang sudah saatnya diganti.
bagaimanapun radio ini banyak meninggalkan banyak kenangan masa kecil.

untuk saat ini saya masih suka memonitor frekuensi radio, walaupun hanya beberapa jalur (band) yang bisa saya dengarkan oleh karena keterbatasan alat yang saya punya. frekuensi yang bisa jangkau ada di jalur HF, VHF, UHF karena memang perangkat radio receiver yang saya punyai sudah mendukung band tersebut.
HF AM di 80 meter band, VHF FM 68 MHz – 108 MHz, VHF AM Airband, VHF FM 136 MHz – 174 MHz, UHF FM 400 MHz – 470 MHz.

pada foto diatas menunjukkan beberapa radio receiver yang saya punyai saat ini. yaitu Weierwei UV-3R VHF/UHF transceiver, Tens FM stereo/AM/SW receiver, dan VHF Airband Super-Regenerative receiver. mungkin akan lebih praktis kalau pakai scanner all band all mode, cukup satu tapi bisa semua. tapi kalau soal harga pastilah scanner seperti itu tergolong cukup mahal…. OK, saya bahas satu-persatu radio receiver yang saya punya berikut dibawah ini:

Super-Regenerative Airband Receiver portabel
radio penerima Airband ini merupakan hasil buatan saya sendiri, cukup sederhana rangkaiannya dan Super-regenerative receiver sudah terkenal dengan sensitivity-nya. untuk lebih jelasnya silakan lihat pada posting saya yang berjudul “membuat radio airband receiver portabel“, untuk membacanya silakan klik DISINI.

kelebihan: rangkaian sederhana, mudah dibuat, minim komponen, sensitifitas atau kepekaan cukup tinggi, bisa dibuat sangat portabel.
kekurangan: selektifitas kurang baik, sangat kontras dengan radio receiver jenis heterodyne.
bagi yang belum kenal dengan radio jenis super-regenerative pasti akan mengalami kesulitan mengoperasikannya untuk pertama kali. rangkaian yang berperan sebagai detector AM, juga merupakan osilator (pemancar aktif) sehingga bisa menimbulkan interferensi. interferensi ini sebenarnya bisa dicegah dengan menambah rangkaian RF stage di antara detector dengan antenna, seperti yang sering ditemui pada radio super-regenerative receiver rancangan Charles Kitchin N1TEV.

jenis radio receiver Airband lainnya yang tidak menimbulkan interferensi adalah “The Passive Aircraft Receiver”, rangkaiannya bisa dilihat di link berikut:
http://www.techlib.com/electronics/aircraft.htm
kelebihan rangkaian tersebut adalah tidak menginterferensi komunikasi pesawat sehingga aman dibawa kemanapun termasuk di dalam cockpit pesawat terbang (aircraft). kekurangannya adalah sensitifitas penerimaan sinyal yang kurang, hanya bisa menangkap sinyal yang kuat atau dekat saja. untuk meningkatkan kepekaan penerimaan sinyal untuk Passive Aircraft Receiver (Airband), maka diperlukan rangkaian tambahan VHF airband RF pre-amplifier. rangkaian tambahan VHF airband RF pre-amplifier yang saya sarankan bisa dilihat dengan klik DISINI.

Tens portabel receiver FM stereo/MW/SW
Tens portabel receiver ini mungkin bisa dibilang termasuk radio lawas, buatan era 90an yang masih menggunakan transistor dan komponen non SMD. jadi kalau dibandingkan dengan Radio Receiver SW yang lebih modern semacam Tecsun PL 660, Sony ICF 7600G, Sangean ATS505, Grundig G6 atau Degen DE1103, tentu sangat jauh bedanya…
untuk membandingkan performa dari berbagai model radio receiver; KA11, DE1105, G6 Aviator, KA1101, PL-450, KA1102, DE1103, DE1121, PL-600, PT-80, G4000A, ATS-909X, ATS-505P, RP2100, Satellit 750, G3, PL-660, SW7600GR, dll, silakan download file PDF pada link berikut ini:
http://www.home.comcast.net/~phils_radio_design/2011_SW_Guide.pdf
OK, kembali ke topik… radio Tens tersebut sering saya gunakan untuk mendengarkan FM radio stereo via headphone dan juga monitoring frekuensi favorit saya di 80 meter band. ramai sekali di jalur SW AM 80 meter band ini terutama kalau sore hari dan kadang pada malam dan pagi hari. tapi biasanya penerimaan yang paling bagus pada waktu tengah malam, mungkin ini berkaitan dengan propagasi dan berkurangnya interferensi/gangguan noise saat tengah malam. banyak yang terdeteksi di sekitar frekuensi 3,7 MHz sampai 4,0 MHz jumlahnya pemancar yang bisa tertangkap kadang bisa sampai sekitar 10an atau lebih (kalau pas lagi weekend atau menjelang hari libur).
kelebihan:
ukurannya mini dan portabel, selectivity bagus, penerimaan sinyal cukup sensitif walau cuma mengandalkan antenna dari kabel kawat tembaga tunggal dengan panjang sekitar 120 cm.
sound via headphone Keenion (<<– ) untuk FM stereo very excellent, bass mantap, treble terasa, dan efek sound stage juga mantap.
kelemahan: tidak support AM mode SSB, dan untuk SW tidak full band.

saya juga berencana ingin membuat radio regenerative receiver untuk penerimaan SW SSB/CW, karena sebenarnya regenerative dan super-regenerative receiver bisa difungsikan untuk penerimaan wide range all mode, yaitu: Regenerative (untuk AM/SW/CW/SSB) dan Superregenerative (untuk VHF FM broadcast/VHF aircraft).
untuk referensinya bisa dilihat pada link-link berikut:
http://www.ke3ij.com/JFETrgn.htm
http://www.mikroe.com/old/books/rrbook/chapter3/chapter3f.htm
http://pa2ohh.com/03rega.htm
http://pa2ohh.com/02reg.htm
lihat juga referensi penting lainnya pada file PDF berjudul “High Performance Regenerative Receiver Design” yang ditulis oleh Charles Kitchin N1TEV, file tersebut bisa di download di:
http://www.arrl.org/files/file/Technology/tis/info/pdf/9811qex026.pdf
untuk sumber referensi lainnya bisa langsung search di Google dengan kata kunci (keyword) “simple regenerative SW SSB receiver”.

Weierwei UV-3R VHF/UHF Tranceiver
mungkin brand yang diusung oleh HT ini belum sekelas HT branded ternama seperti Yaesu, Kenwood, Alinco atau Icom. tapi anda jangan salah kira, UV-3R termasuk salah satu HT transceiver yang mendapat sambutan cukup positif di seluruh dunia. selain kelebihannya dari segi harga yang value, ternyata kualitas penerimaan juga boleh diadu dengan HT branded lainnya. walaupun radio ini bukan scanner, tapi kalau soal penerimaan sinyal bisa dibilang cukup sensitif. dengan memakai antenna asli bawaan, saat pagi atau malam kadang saya bisa mendengarkan salah satu repeater (dengan sinyal sekitar S3 dari full s10) di jalur VHF yang kemungkinan besar menurut dugaan saya, dipasang di daerah Ungaran yang notabene terletak lebih tinggi dari kota Semarang. jarak tempat kota saya yaitu Cepu ke kota Semarang kurang lebih ada sekitar 120 Km. saya tidak tahu apakah repeater itu milik Jasamarga atau Polantas daerah Ungaran, tetapi masih berhubungan dengan lalu-lintas dan jalan di kota Ungaran dan sekitarnya. Weierwei UV-3R ini sebenarnya identik dengan UV-3R lainnya tapi dengan merk berbeda misalnya HT Baofeng UV3R. walaupun ini merupakan radio komunikasi dua arah atau biasa disebut Tranceiver, tapi saya hanya menggunakannya untuk monitoring frekuensi di jalur VHF dan UHF. menurut saya penerimaan (sensitivity) UV-3R ini sangat bagus, cuma memakai antenna bawaan saja sudah banyak frekuensi yang bisa dipantau…

setelah membaca posting saya ini, ada baiknya anda juga baca posting saya yang berjudul “Radio SW biasa bisa dijadikan SSB receiver“, silakan klik DISINI untuk mengunjungi posting tersebut.
—-0000—-

silakan kunjungi juga posting-posting saya yang lainnya:

>> Membuat radio penerima Shortwave (SW receiver) sederhana
>> Kumpulan artikel tentang tanaman dan buah Strawberry
>> Sudah Jutaan Rupiah saya raup dari situs survey online ini
>> Sudah $82.06 saya raup dari Triond via Paypal
>> Test The Speed of Flash Disk with Check Flash
>> Some Fruit That Can Sharpness Your Brain

Advertisements

9 Responses to “Radio receiver dan hobby monitoring frekuensi radio”


  1. […] di jalur VHF (FM broadcast, AM Airband, dan amatir 2m). saya sudah mencobanya sendiri pada radio receiver yang saya punya […]

  2. amin Says:

    Salam kenal aji..saya juga penggemar radio amatir, mudah2 bisa berbagi pengalaman, he he he

  3. touringrider Says:

    salam kenal mas. saya juga hobby monitoring radio

  4. Yusup Says:

    Salam kenal mas.saya memakai HT UHF low sebagai receiver yg menggerakan switch relay sebagai saklar ON bagaimana caranya supaya menghilangkan/meminimalisir sinyal interference yang sewaktu HT transmiter tdk di PTT tp perangkat ON sendiri..mohon pencerahanya apakah ada tambahan circuit bisa di share kah atau ada trik2 lainya supaya HT receiver bebas sinyal interderence..terimakasih

    • arjip Says:

      iya Gan, interferensi memang bikin kegiatan yang berhubungan dengan monitoring RF jadi terganggu. saya sekarang jadi jarang pegang radio gara-gara masalah interferensi. saya dulu suka mendengarkan (monitoring) radio Gan, spesifik di jalur HF SSB, siaran FM stereo, Airband, 2m VHF. kalau sekarang saya sudah agak jarang mendengarkan radio, beralih ke streaming Youtube dan radio online…
      pertama, untuk mengurangi masalah interferensi sebaiknya Agan menambah dengan rangkaian Band Pass Filter yang secara spesifik bisa meloloskan frekuensi yang diinginkan dan menghalangi sinyal frekuensi lain yang tidak diinginkan baik dibawah dan diatas frekuensi kerja, coba nanti Agan cari-cari referensinya di Google.
      yang ke 2, yaitu dengan menggunakan antenna “high directivity” yaitu antenna yang sangat terarah, ini hanya akan memperkuat sinyal dari arah yang diinginkan atau diperlukan saja dan memblok sinyal dari arah lain yang tidak diinginkan.
      yang ke 3, menjauhkan receiver dari sumber interferensi. sumber interferensinya harus dicari dulu Gan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s