Radio SW biasa bisa dijadikan SSB receiver

June 26, 2012

Operator radio amatir kebanyakan lebih memilih untuk beroperasi pada mode SSB (single sideband) dan CW, karena membawa sinyal melalui jarak yang lebih jauh bila dibanding mode AM untuk daya pemancar yang sama. Radio Penerima siaran SW biasa tidak ditujukan untuk langsung menerima transmisi pada SSB dan CW (kode Morse). radio Gelombang pendek atau shortwave pada umumnya memerlukan tambahan alat jika ingin dijadikan SSB CW receiver, yaitu dengan BFO (beat oscillator frequency), yang merupakan osilator RF dari jenis konvensional. Output dari BFO yang heterodyned bercampur dengan frekuensi lain untuk memperoleh frekuensi akhir (selisih dari dua frekuensi) terbentang dalam kisaran audio (sekitar 1kHz). Radio percakapan komunikasi amatir (HAM) mode SSB jika kita dengarkan pada radio Shortwave biasa maka akan terdengar seperti suara ‘kwek Bebek’ dan tidak terdengar jelas. radio SW biasa ditujukan untuk menerima sinyal di mode AM saja dan tidak menerima sinyal mode SSB. sebuah unit terpisah diperlukan pada tahap ‘Detector’ dari penerima AM, yang tidak lain adalah ‘Generator Frekuensi’ stabil ( RF Oscillator), yang disebut ‘Beat Frequency Oscillator’ (BFO). BFO ini digunakan untuk menampilkan ‘Frekuensi carrier lokal’ (frekuensi SSB umumnya adalah 10 sampai 20 Hertz selisih dari frekuensi carrier pemancar yang dihilangkan pada pemancar stasiun radio amatir dengan tujuan untuk menghemat daya).

Teknik lain yang populer untuk mendengarkan stasiun amatir SSB pada radio penerima biasa adalah dengan menggunakan dua set radio. dalam teknik improvisasi, satu set radio bertindak sebagai BFO, yang lain bertindak sebagai penerima SSB. kedua radio tersebut harus diletakkan secara berdekatan. Kontrol volume tombol set radio yang digunakan sebagai BFO harus disetel pada minimum. Biasanya radio saku 3 band (AM/FM/SW) dapat sesuai digunakan sebagai BFO.

BFO dapat digunakan untuk mendapatkan catatan audio dari penerimaan CW dan juga untuk mengatasi sinyal SSB. Sebuah sinyal SSB ditransmisikan tanpa sinyal pembawa (carrier). Dalam receiver biasa, tidak menghasilkan suara yang jelas. Ketika BFO di hidupkan maka sinyal ter-heterodyne dengan sinyal SSB, ini bertindak seperti RF pembawa dan sinyal SSB bisa diselesaikan dengan baik sehingga bisa didengarkan.
Berikut ini adalah rangkaian BFO dari Jim G4NWJ, seperti yang terlihat pada link berikut:
http://www.hanssummers.com/superdrg/superdrgbfo.html

dibawah ini adalah rangkaian BFO Jim G4NWJ yang sudah saya tambahi sendiri dengan antenna dan LED:

rangkaian cukup sederhana, transistor 2N2222 bisa diganti dengan BC109. untuk 455KHz IF can (trafo IF) bisa menggunakan inti yang warna kuning atau hitam, biasanya yang warna kuning ada di radio AM. saya sendiri memakai 455KHz IF can dengan inti yang warna kuning, saya ambil dari board radio tape bekas yang sudah rusak. hubungkan body trafo IF dengan ground. transistor yang saya gunakan BC109C. antenna BFO bisa dari kabel atau kawat dengan panjang 20 cm, dekatkan dengan radio. jika sinyal BFO terlalu kuat, jauhkan antenna BFO beberapa cm dari radio. untuk meminimalisir distorsi audio pada saat radio receiver menerima sinyal SSB, pastikan rangkaian BFO mempunyai grounding yang baik, kalau perlu buat ruang untuk grounding yang cukup luas di PCB BFO.

Untuk mengoperasikan alat ini, pertama-tama dengarkan SSB yang diinginkan (terdeteksi dari suara kwek bebek) atau sinyal CW di radio penerima SW. aktifkan BFO, tala akhir sekarang dilakukan dengan memutar inti trafo IF (IF can) pada BFO sampai SSB terdengar “audibel”. sesuaikan tuning pada radio penerima untuk mendapat hasil terbaik. penyesuaian tuning harus dilakukan secara perlahan, karena bandwidth sinyal SSB memang sangat sempit, apalagi kalau jenis radio penerimanya adalah jenis radio analog pocket atau portabel. kalau knob tuning pada radio penerima terlalu kecil diameternya, maka sebaiknya diganti dengan knob yang diameternya lebih besar supaya lebih mudah dan halus dalam penalaan frekuensi SSB. bisa juga dengan menambah “fine tuning”, seperti pada referensi di link berikut:
http://hanssummers.com/superdrg/superdrgfinetune.html
pada titik di mana sinyal osilator BFO 455KHz terdengar mem-beat atau mencampur dengan transmisi SSB, maka kita bisa mendengarkan komunikasi SSB tersebut. untuk mode CW, tuning tidak terlalu kritis, penyesuaian di sekitar frekuensi transmisi hanya akan mengubah pitch suara.Tapi untuk penerimaan yang baik di SSB, tuning cukup kritis.

Kopling langsung dari output BFO ke antenna radio receiver tidak diperlukan, karena bisa menyebabkan gangguan pada radio receiver. jika sinyal BFO terlalu kuat, jauhkan antenna BFO beberapa cm dari radio. di bawah ini adalah foto rangkaian BFO yang saya rakit sendiri

Performance: untuk performa dan efektivitas BFO untuk me-resolve SSB pada radio penerima tergantung banyak faktor: seperti propagasi, antenna, sensitivitas radio penerima, frequency drift, penalaan, catu daya. untuk stabilitas BFO sebaiknya gunakan catu daya dari baterai dengan kapasitas yang besar, saya sendiri menggunakan baterai 4,1 Volt 4800mAH (saya ambil dari cell baterai laptop bekas dan kondisinya ternyata masih bagus). beberapa versi BFO lainnya bahkan ada yang menggunakan dioda zener, kristal, dan keramik filter untuk menstabilkan BFO. radio pocket atau radio portabel yang berharga murah biasanya juga punya masalah pada pergeseran frekuensi (frequency drift) setelah dinyalakan dalam beberapa waktu. untuk penerimaan SSB sebaiknya gunakan radio receiver yang punya kestabilan frekuensi yang baik. dari pengalaman saya, dengan radio portabel analog 10 band merk Tens (identik dengan radio Sangean SG-789), BFO, dan hanya dengan antenna kabel panjang sekitar 2,5 meter, pada pagi hari saya bisa mendengarkan komunikasi dari stasiun amatir SSB pada frekuensi sekitar 7,0 MHz dan 6,2 MHz dari daerah Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Sumatra dengan cukup jelas dan baik. lokasi saya berada di kota Cepu Jawa Tengah. untuk siang hari dan sore hari, saya hanya bisa menangkap stasiun SSB dari pulau Jawa saja, apakah hal ini karena pengaruh dari propagasi? mungkin saja…
kadang-kadang di beberapa frekuensi HF lainnya, saya juga bisa memonitor frekuensi komunikasi SSB pelayaran yang sedang aktif dengan radio ini.

untuk meningkatkan performa penerimaan, silakan gunakan antenna kabel. semakin panjang semakin bagus hasilnya. koneksikan ke input eksternal antenna yang ada di receiver, jika tidak ada input eksternal antenna pada receiver, maka bisa dibuat sendiri dengan menambah kopling kapasitor 47 pF dan diseri dengan antenna kabel, kemudian ujung kapasitor lainnya dihubungkan pada antenna whip telescopic radio.

cara lain dengan dua radio untuk meresolve SSB
untuk cara yang ini belum saya coba, tapi dari beberapa referensi mengatakan cara ini juga bisa digunakan untuk me-resolve SSB di radio receiver SW biasa. Pertama, kita akan membutuhkan antenna luar atau antenna kabel eksternal. Karena perangkat radio penerima portabel SW yang biasa umumnya tidak sensitif untuk menerima transmisi daya yang rendah seperti pada stasiun SSB. Sebagian besar amatir menggunakan daya di bawah 100 watt (stasiun broadscast dapat menggunakan 4000 atau 5000 watt!). Seorang operator radio amatir pemula dapat ditemukan beroperasi dengan daya serendah 0,5 watt! Langkah pertama adalah untuk menemukan transmisi radio SSB pada radio penerima utama (pencarian untuk audio seperti “ber-kwek bebek”) disetel ke frekuensi SSB ( masing-masing di 40m band atau 20m band , yaitu antara 7,0-7,1 MHz atau 14,0-14,3 MHz).  dari pengalaman saya sendiri kalau sore dan pagi hari biasanya banyak radio amatir SSB yang mengudara di frekuensi di antara 6 MHz sampai 7 MHz bahkan kadang sampai tengah malam , cari saja ke frekuensi pada range tersebut kalau ingin mendengarkan SSB. Setelah stasiun amatir kuat telah terdeteksi, langkah berikutnya adalah untuk membawa penerima saku (yang volumenya sudah dikecilkan) di dekat ke penerima utama. Set radio saku juga harus disetel ke frekuensi yang dekat dengan frekuensi di mana transmisi amatir SSB diterima. Dengan cara ini, frekuensi yang dihasilkan oleh osilator lokal dari radio saku dapat dibuat untuk menghasilkan efek heterodyne dalam penerima utama sehingga membuat sinyal SSB bisa audibel. Teknik ini tentu saja membutuhkan kesabaran Anda.

untuk desain lain dari BFO, bisa anda cari sendiri referensinya di Google. cukup banyak mulai dari menggunakan crystal sampai filter keramik.
—-00——
silakan kunjungi juga posting menarik lainnya berikut ini:

>> Radio receiver dan hobby monitoring frekuensi radio

>> Sudah Jutaan Rupiah saya raup dari situs survey online ini

>> Menulis & memposting  artikel bisa menghasilkan Dollar

>> Kumpulan artikel tentang tanaman dan buah Strawberry

>> The Benefits Binoculars for Astronomy Part I

>> Aneka antenna wifi untuk nembak hotspot atau RTRWnet

>> Manfaat buah Mangga untuk kesehatan

>> Deep Space Objects on Big Dipper Part I

>> Orion Nebula, One of The Most Photographed Celestial Object

Advertisements

7 Responses to “Radio SW biasa bisa dijadikan SSB receiver”


  1. […] setelah membaca posting saya ini, ada baiknya anda juga baca posting saya yang berjudul “Radio SW biasa bisa dijadikan SSB receiver“, silakan klik DISINI untuk mengunjungi posting tersebut. […]

  2. Aditya Says:

    permisi mas, boleh minta bantuannya.
    Sy punya Radio FM lengkap dngn SW1, SW2 dan MW. gini sy ini masih baru dalam dunia radio jadi masih kurang ngerti, sy mau dengar radio luar negeri seperti ABC ato BBC, nah gmn caranya itu mas? mohon bantuannya?

    • arjip Says:

      saat ini saya sudah sangat jarang mendengarkan siaran luar negeri via SW band, lebih sering monitoring radio komunikasinya (SSB). kalau ingin lebih mengetahui jadwal siaran radio BBC silakan langsung kunjungi langsung ke situsnya.


  3. mas rangkaiannya udah saya coba tapi waktu saya tuning pada inti mf kuning kog cuman gremesek yg mengganggu ga bisa nala ssb nya

    • arjip Says:

      coba cek rangkaiannya sekali lagi, apakah kaki-kaki pada transistor dan MF kuningnya sudah dipasang pada posisi yang benar? jauhkan rangkaian BFO atau kurangi panjang antennanya jika ada desis yang terlalu kuat di radio, atau bisa juga dengan mengatur jarak antara BFO dengan radio. jika MF kuning ditala dengan benar dan akurat, suara SSB bisa didengar dengan cukup baik… (tinggal disesuaikan saja penalaan di tuning radionya).


  4. makin mantap klo di tambah antena pengarah, bagus sekali infonya gan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s