Pada posting ini saya mencoba membahas cara membuat lampu dengan LED CREE berukuran mini, yang bisa masuk dengan mudah dalam saku baju atau saku celana. lampu yang saya maksud dalam posting ini adalah lampu flashlight atau lampu senter yang berukuran kecil dan ringan. untuk lebih jelasnya silakan anda simak video yang saya posting di Youtube berikut, silakan klik pada gambarnya:

mini-cree-blog

Proyek lampu senter (flashlight) ini cukup sederhana untuk dirangkai sendiri (DIY) dan merupakan lampu senter mini yang menggunakan LED CREE Chip emitter.

bahan-bahan atau material yang dibutuhkan:
1x lampu T10 Cree 3 Watt
1x resistor 10 ohm
1x Mini saklar
kawat kabel tembaga padat
sepotong plastik tebal untuk pemegang dasar
Li-Ion 720 mAh (baterai kamera)

langkah pembuatannya:
buat dudukan dasar (custom) dari bahan plastik (DIY holder base), bahan plastik bisa menggunakan toples plastik bekas atau plastik mika. gunakan parameter dan penyesuaian dengan ukuran baterai Li-Ion yang akan digunakan yaitu baterai dengan bentuk kotak (saya mengambil dari baterai kamera saku digital)…
bongkar lampu Cree T10 dan lepaskan semua resistor yang terpasang di dalamnya (hal ini bisa disebut hack lampu LED T10 CREE 12 Volt dan memodifikasinya untuk bisa digunakan dengan baterai kamera Li-ion 3,7 volt)
menempatkan semua bagian komponen dalam holder (lihat wiring diagram dalam video yang saya maksud di atas).
untuk membuat senter tahan lama, maka perlu ditambah casing yang sesuai ukuran. masukkan baterai Li-ion 720 mAh pada holder, dan lampu senter mini ini bisa digunakan.

lampu senter LED CREE ini memang punya ukuran yang mini, tapi jangan salah, cahaya yang dihasilkan cukup terang untuk digunakan dalam ruangan atau di dalam rumah…
mungkin Anda dapat merancang dan melakukan percobaan (DIY) untuk menghasilkan lampu senter yang lebih kompak dan mini dalam ukuran tetapi mempunyai kinerja yang lebih baik dari apa yang sudah saya jelaskan diatas…
tapi jika Anda ingin membuat proyek DIY senter LED yang sederhana, Anda dapat memulai membuat dengan apa yang sudah saya jelaskan dalam posting dan video di atas.

jika anda sudah membuat lampu senter ini dan tidak puas dengan intensitas cahayanya, Anda dapat menurunkan nilai resistor di bawah 10 ohm, yaitu misalnya menggunakan resistor 5 ohm, tapi pilihan ini dapat membuat modul LED CREE dan reflektor mudah panas dan perlu dipasang heatsink sebagai peredam panas…

silakan kunjungi juga posting-posting menarik berikut ini:

> Cara membuat Powerbank dari baterai

> Berkebun Strawberry di Dataran Rendah

> Membuat lampu LED multifungsi dilengkapi dimmer

> Membuat mainan kapal tenaga surya

> Membuat Powerbank dengan baterai AA 1,5 Volt

Solar charger branded seperti merk Goal Zero tergolong mahal harganya tapi menawarkan kualitas yang baik, di Indonesia sebagai daerah tropis dengan sinar matahari yang cukup melimpah sepanjang tahun dan jumlah pengguna gadget yang terus meningkat tentu banyak dari mereka yang meminati untuk menggunakan charger dengan tenaga surya (solar charger).

bagi mereka yang butuh solar charger dengan budget pas-pasan tentu mengharapkan solar charger yang berkualitas tapi dengan harga yang terjangkau, bila harus membeli solar charger merk branded yang mahal tentu terasa memberatkan. berawal dari ide ini saya mulai berkreasi untuk merakit solar charger yang terjangkau tapi juga tetap menjaga kualitas. solar charger ini tidak untuk saya jual akan tetapi saya jadikan contoh agar pembaca bisa ikut terinspirasi untuk membuatnya sendiri atau bahkan mengembangkan sendiri menjadi lebih baik. solar charger ini hanya butuh biaya kurang dari 15 $ saja, cukup murah jika dibandingkan jika harus membeli solar charger branded semacam Goal Zero. bahan atau komponen utama yang dibutuhkan untuk perakitan solar charger ini cuma mini solar panel dan modul converter.

2636664_20140120043015Solar charger Goal Zero

Solar charger umumnya digunakan oleh mereka yang sulit mendapat akses jaringan listrik PLN tapi mudah mendapat akses sinar matahari, misalnya backpacker yang mengunjungi tempat-tempat eksotis di pedalaman, para pendaki gunung, nelayan dan pelaut, traveller, kondisi darurat (emergency), perkemahan (camping), kegiatan alam, dan surveyor di lapangan. mengisi ulang baterai gadget atau smartphone yang habis hanya butuh sinar matahari dengan alat solar charger ini.

penggunaan solar charger ini cocok untuk gadget kecil seperti smartphone dengan ukuran layar sekitar 3 sampai 5 inch dengan kapasitas baterai berkisar di 1500 mAh. saya sendiri sudah menguji coba pada smartphone Sony Ericsson Aspen M1i dan Tablet PC Ainol Aurora saya, dan solar charger ini dapat berjalan lebih optimal pada smartphone saya. ini adalah foto dari solar charger yang saya buat:

membuat solar charger murah tapi berkualitas

jika anda tertarik untuk mencoba merakit sendiri Solar Charger yang murah meriah ini maka silakan kunjungi pada posting saya berikut —>  >> Praktek membuat solar charger 4 Watt <<

silakan kunjungi juga posting-posting saya yang lainnya:

>> Membuat mainan kapal tenaga surya

>> Powerbank Samsung 25000mAh ini asli atau palsu?

>> Membuat Powerbank dengan baterai AA 1,5 Volt

>> Survey online yg sdh membayar saya jutaan Rupiah

Dalam posting kali ini berkaitan dengan mini solar panel. mini solar panel atau solar module dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat mainan anak yang bersifat edukatif dan sederhana, karena yang saya bahas disini cuma butuh beberapa bahan tambahan.

modul surya (solar module) atau panel surya mini (mini solar panel) terdiri dari beberapa sel surya (solar cell), biasanya dihubungkan secara seri. hal ini bertujuan untuk meningkatkan output daya, jika dibandingkan dengan output dari sel surya tunggal. saya membeli modul surya ini di situs Banggood. silakan simak pengalaman saya membeli barang di Banggood pada posting berikut:  —>> Pegalaman saya membeli barang di Banggood.

sebelum menggunakannya dalam beberapa proyek kecil, saya menguji terlebih dahulu output power dari panel surya mini tersebut. Anda dapat menonton videonya di channel Youtube saya berikut ini:

Mini Surya Uji Panel
dalam uji coba tersebut, saya menemukan bahwa modul surya tersebut dapat mencapai output daya sekitar 2 Watt, dan dapat menjalankan dengan baik motor dinamo DC kecil yang berdiameter 2,5 cm . dengan hasil ini, saya percaya modul surya ini bisa digunakan dalam beberapa proyek-proyek kecil, misalnya untuk membuat mainan anak dengan modul surya ini.

mainan ini bisa dibuat dari beberapa bahan yang dapat ditemui dengan mudah di rumah, bahan-bahan tersebut seperti box makanan bekas, motor dinamo bekas mainan, kabel, dan lem epoxy sebagai perekat. bahan lainnya seperti mini solar panel itu saya dapat dengan membeli di situs Banggood. kalau bahannya sudah terkumpul maka dapat dengan segera dibuat menjadi mainan kapal bertenaga surya. tidak perlu komponen special atau bahan khusus kecuali untuk mini solar panel, karena mungkin tidak tersedia secara umum di toko elektronika, tapi ini bisa mudah didapat bila membeli di situs online.

untuk mengetahui cara membuat mainan kapal tenaga surya tersebut, di bawah ini adalah link video di channel Youtube saya yang berisi bahan-bahan atau material yang diperlukan, diagram pengkabelan, dan pengujian mainan tersebut di halaman rumah:

Membuat Solar Powered Boat Toy

Rangkaian elektronika berikut cukup sederhana terdiri hanya beberapa komponen dan mudah dibuat, bisa digunakan untuk mendeteksi level baterai Li-ion 18650 apakah sedang dalam keadaan kosong, terisi atau penuh. Proyek elektronik sederhana yang bisa dilihat pada link video di bawah posting adalah hanya terdiri dengan beberapa komponen, yaitu satu transistor BC547, tiga resistor, 2 LED kecil, dan satu dioda 1N4148.  Indikator Level Baterai Li-Ion ini dapat difungsikan sebagai indikator misalnya untuk mengetahui level baterai di Power Bank buatan sendiri, atau dapat digunakan untuk test pada baterai yang berjenis Li-Ion, misalnya menguji pada Li-Ion 18650, baterai Li-Ion 16340, baterai type 14500, baterai Li-ion pada Smartphone, Li-Ion tipe 26650, dll

                                                          Gambar: Sony Rechargeable Li-Ion Battery 18650

kit ini bisa dipakai untuk beberapa proyek elektroika, yaitu: indikator baterai untuk Powerbank, indikator baterai untuk Solar Cell Powerbank, Uji kondisi tingkat baterai Li-Ion, dll.

rangkaian hanya terdiri beberapa komponen, sehingga Anda dapat dengan mudah membuatnya untuk proyek Anda.
dapat mendeteksi kondisi tingkat baterai Li-Ion di kondisi Low, Medium, High, dan Full.  jika tegangan baterai turun sampai ke level “medium”, LED merah menjadi menyala, dan akan lebih terang jika baterai dalam kondisi tingkat “low” (saat tegangan baterai turun disekitar 3,6 Volt).  dalam uji coba, LED hijau selalu menyala tetapi akan lebih terang jika baterai berada di level “high”.

untuk lebih jelasnya, anda dapat melihat skema rangkaian, demonstrasi, dan deskripsi pada link video Youtube dibawah ini, silakan langsung klik pada gambarnya:

Penggunaan komponen LED (Light Emitting Diode) untuk menggantikan bola lampu konvensional saat ini sudah semakin meluas, mulai dari lampu pada motor , lampu penerangan rumah, lampu emergency, lampu hemat daya, lampu senter (flashlight), dll.  lampu dari LED mempunyai kelebihan yaitu:

  1. Cahaya yang terang tapi konsumsi daya yang rendah (watt kecil)
  2. Umur pemakaian yang panjang
  3. Mempunyai berbagai pilihan warna serta cahayanya dingin

pada kesempatan kali ini, saya akan membahas membuat Lampu LED banyak guna (multifungsi) yang dilengkapi Dimmer, saya sudah membuatnya sendiri dan menguji coba hasilnya cukup lumayan. rangkaian sangat sederhana karena hanya terdiri dari beberapa komponen, berikut adalah skema rangkaian (circuit) dari lampu LED multifungsi yang dilengkapi dengan dimmer:

 

membuat lampu LED

daftar komponen yang digunakan:

  • 1 konektor USB male beserta kabelnya
  • 4 buah Super Bright LED ukuran 4,8 mm warta putih (white super bright LED)
  • 1 variabel resistor (potensiometer) 10 K
  • 1 resistor 27 ohm

berikut ini adalah link video Youtube dari ujicoba prototype lampu LED yang telah saya buat, silakan klik DISINI atau bisa juga dengan klik gambar di bawah ini:

membuat lampu LED youtube

Lampu LED buatan sendiri tersebut menggunakan sumber daya USB 5 Volt,  dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti: Lampu Darurat atau emergency lamp (dengan powerbank sebagai power supply), Lampu untuk laptop (dicolokkan ke port USB di laptop sebagai sumber daya), LED Night Light (dengan USB adaptor/charger sebagai power supply).  rangkaian sederhana dan punya daya yang rendah, terdiri dari 4 LED super terang (super bright LED), variabel resistor (potensio) untuk dimming kontrol, resistor untuk membatasi arus, dan konektor USB.

silakan kunjungi juga posting-posting menarik berikut ini:

>> Membuat Powerbank dengan baterai Smartphone

>> Powerbank Samsung 25000mAh ini asli atau palsu?

>> Membuat Powerbank dengan baterai AA 1,5 Volt

>> DIY homemade portable speaker for gadget 

>> Survey online yg sdh membayar saya jutaan Rupiah

>> Pengalaman saya  beli online jam tangan di Ebay

>> Play Game Grid 2 with low end laptops

>> 10 Most Beautiful Island in Indonesia

>> Lamborghini Gallardo in Circuit de Spa Francorchamps (Real Racing 3)

Saya sudah beberapa kali membuat sendiri rangkaian penguat antenna untuk UHF TV dengan menggunakan transistor, dan belum berhasil karena hasilnya sama saja jika tidak pakai. entah apa penyebabnya, bisa jadi karena rangkaian tersebut tidak match impedansinya, rangkaian berisolasi,  stray capacitance & stray inductance dari komponen, terlalu banyak kemungkinan.

dari beberapa referensi di internet saya mengetahui bahwa ada alternatif lain  yaitu menggunakan komponen MMIC, apa itu MMIC? silakan baca pada posting saya berikut –>  Mengenal komponen elektronika: MMIC

beberapa keuntungan menggunakan komponen MMIC untuk penguat antenna yaitu:

rangkaian booster menjadi sangat sederhana, bisa dibuat sistem masthead (booster di dekat antenna dan power supply diumpan dari bawah), rangkaian stabil, penguatan tinggi, wideband, bisa dirangkai secara cascade untuk meningkatkan gain, komponen MMIC cukup murah harganya.

silakan baca posting saya —>  Membuat penguat (booster) antenna murah meriah

dari pengalaman saya menggunakan MMIC untuk rangkaian penguat (booster) antenna UHF didapat hasil yang bagus, ada peningkatan kualitas penerimaan dan gambar di TV juga terlihat lebih jelas dari sebelumnya. untuk lebih jelasnya silakan simak posting saya berikut ini:

bagian pertama —> Membuat booster antena TV UHF dengan MMIC
bagian kedua    —> Hasil uji coba booster antena TV UHF dengan MMIC

Speaker Aktif 2.1 adalah speaker aktif yang terdiri dari sistem speaker 1 Subwoofer dan 2 speaker satelit (R/L). pada kesempatan ini saya coba menunjukkan salah satu desain speaker aktif 2.1 dari merk Speaker Aktif yang sudah cukup terkenal yaitu Altec Lansing.  desain speaker satelit dengan konfigurasi down firing untuk driver mid-bass, kembali dihadirkan oleh Altec Lansing melalui produknya seri VS4621 atau dikenal dengan OCTANE7.

keterangan gambar:

1.speaker satelit didesain dengan konfigurasi down-firing untuk driver (speaker) mid-bass. dengan desain ini, Altec Lansing ingin dapat menghadirkan tingkatan performa produk maupun kualitas yang tidak bisa dianggap enteng, bahkan untuk dimensi speaker maupun power yang tidak besar. tujuan dari down-firing sendiri untuk mendapatkan kreasi suara yang lebih menyebar keseluruh ruang pendengaran. jadi tidak terpaku pada satu titik sumber audio.

2. pada desain Subwoofer-nya menggunakan pendekatan yang tetap konvensional, berupa enclosure persegi dengan menerapkan tipe ported. untuk desain pada subwoofer ini, meski dengan tingkatannya yang standar, ia tetap dapat menghadirkan kualitas suara tinggi tanpa noise yang cukup berarti. bahkan ini berlaku pada putaran volume tinggi. satu hal yang positif  yaitu semua diraih dengan kebutuhan daya yang tidak terlalu besar.

3.sedikit ganjalan dalam desain, driver subwoofer tidak dilengkapi dengan grill/pelindung penutup. dimana bila kurang berhati-hati dalam menangani box subwoofer, kemungkinan akan menyebabkan rusaknya membran speaker subwoofer.

4.pada sisi kontrol operasional, speaker ini hanya menyediakan satu kendali yang berada pada speaker satelit. meski tergolong standar untuk kebanyakan speaker 2.1, namun untuk sekelas speaker seperti Altec Lansing, hal ini dianggap kurang. walaupun begitu pada kontrol sudah dilengkapi setting knop lengkap, bukan hanya untuk bass dan volume, tapi juga untuk setting treble.

5.speaker tweeter untuk menampilkan terble, ada 2 buah untuk tiap satelit. walaupun ukuran diameternya kecil, tapi akan tertutupi dengan jumlahnya yang ada 2 buah untuk tiap satelit (R/L).

sumber referensi:  PCmedia November 2010

—-00—-

silakan kunjungi juga posting-posting berikut ini:

>> Iconptc (ini juga salah satu blog yang saya punyai)

>> Membuat Box speaker Subwoofer desain sendiri

>> Membuat surround home theatre untuk komputer / laptop

>> Buat sendiri aneka macam audio amplifier

>> Keenion KDM-219 Headset Game, murah tapi tidak murahan

>> Intel HD is Not Enough for Serious Gaming

>> AMD E350 is Not Enough for Serious Gaming

>> Kumpulan artikel tentang kesehatan

Rangkaian dibawah ini adalah rangkaian adjustable power supply yang saya ekstrak dari ebook 101-200TransistorCircuits. rangkaian power supply ini bisa mencatu arus sampai 5 Ampere. tegangan output keluaran ditentukan oleh VR 5K. jika anda ingin menggunakan power supply ini, sebaiknya di sesuaikan dulu tegangan output power supply dengan spesifikasi tegangan maksimum pada alat yang ingin dicatu. cek tegangan keluaran power supply dengan menggunakan alat multitester atau voltmeter.

5V arus tinggi dengan regulator tegangan LM7805

salah satu contoh rangkaian power supply 5V arus tinggi dengan menggunakan IC LM7805. Rangkaian di bawah ini adalah cukup sederhana untuk meningkatkan arus keluaran dari regulator tegangan IC 7805/78xx . Hanya perlu beberapa komponen eksternal dari transistor PNP, beberapa resistor dan kapasitor, maka power supply 5V ini  telah mampu melayani arus beban lebih besar dari 1A.

untuk menambah referensi tentang power supply, silakan baca juga posting saya yang berjudul :

>> Rangkaian power supply, catu daya 12V 3A
>> Membuat adaptor, power supply, charger handphone (gadget)
>> Adaptor netbook/laptop rusak? di cek dulu saja

——–00——-

silakan kunjungi juga blog saya lainnya:  ->> iconptc.blogspot.com
kunjungi juga posting-posting menarik berikut ini:

>> Radio SW biasa bisa dijadikan SSB receiver

>> Test The Speed of Flash Disk with Check Flash

>> Some Fruit That Can Sharpness Your Brain

>> Manfaat buah manggis untuk kesehatan

>> Benefits & Secrets of Young Coconut Water

>> Radio receiver dan hobby monitoring frekuensi radio

Operator radio amatir kebanyakan lebih memilih untuk beroperasi pada mode SSB (single sideband) dan CW, karena membawa sinyal melalui jarak yang lebih jauh bila dibanding mode AM untuk daya pemancar yang sama. Radio Penerima siaran SW biasa tidak ditujukan untuk langsung menerima transmisi pada SSB dan CW (kode Morse). radio Gelombang pendek atau shortwave pada umumnya memerlukan tambahan alat jika ingin dijadikan SSB CW receiver, yaitu dengan BFO (beat oscillator frequency), yang merupakan osilator RF dari jenis konvensional. Output dari BFO yang heterodyned bercampur dengan frekuensi lain untuk memperoleh frekuensi akhir (selisih dari dua frekuensi) terbentang dalam kisaran audio (sekitar 1kHz). Radio percakapan komunikasi amatir (HAM) mode SSB jika kita dengarkan pada radio Shortwave biasa maka akan terdengar seperti suara ‘kwek Bebek’ dan tidak terdengar jelas. radio SW biasa ditujukan untuk menerima sinyal di mode AM saja dan tidak menerima sinyal mode SSB. sebuah unit terpisah diperlukan pada tahap ‘Detector’ dari penerima AM, yang tidak lain adalah ‘Generator Frekuensi’ stabil ( RF Oscillator), yang disebut ‘Beat Frequency Oscillator’ (BFO). BFO ini digunakan untuk menampilkan ‘Frekuensi carrier lokal’ (frekuensi SSB umumnya adalah 10 sampai 20 Hertz selisih dari frekuensi carrier pemancar yang dihilangkan pada pemancar stasiun radio amatir dengan tujuan untuk menghemat daya).

Teknik lain yang populer untuk mendengarkan stasiun amatir SSB pada radio penerima biasa adalah dengan menggunakan dua set radio. dalam teknik improvisasi, satu set radio bertindak sebagai BFO, yang lain bertindak sebagai penerima SSB. kedua radio tersebut harus diletakkan secara berdekatan. Kontrol volume tombol set radio yang digunakan sebagai BFO harus disetel pada minimum. Biasanya radio saku 3 band (AM/FM/SW) dapat sesuai digunakan sebagai BFO.

BFO dapat digunakan untuk mendapatkan catatan audio dari penerimaan CW dan juga untuk mengatasi sinyal SSB. Sebuah sinyal SSB ditransmisikan tanpa sinyal pembawa (carrier). Dalam receiver biasa, tidak menghasilkan suara yang jelas. Ketika BFO di hidupkan maka sinyal ter-heterodyne dengan sinyal SSB, ini bertindak seperti RF pembawa dan sinyal SSB bisa diselesaikan dengan baik sehingga bisa didengarkan.
Berikut ini adalah rangkaian BFO dari Jim G4NWJ, seperti yang terlihat pada link berikut:
http://www.hanssummers.com/superdrg/superdrgbfo.html

dibawah ini adalah rangkaian BFO Jim G4NWJ yang sudah saya tambahi sendiri dengan antenna dan LED:

rangkaian cukup sederhana, transistor 2N2222 bisa diganti dengan BC109. untuk 455KHz IF can (trafo IF) bisa menggunakan inti yang warna kuning atau hitam, biasanya yang warna kuning ada di radio AM. saya sendiri memakai 455KHz IF can dengan inti yang warna kuning, saya ambil dari board radio tape bekas yang sudah rusak. hubungkan body trafo IF dengan ground. transistor yang saya gunakan BC109C. antenna BFO bisa dari kabel atau kawat dengan panjang 20 cm, dekatkan dengan radio. jika sinyal BFO terlalu kuat, jauhkan antenna BFO beberapa cm dari radio. untuk meminimalisir distorsi audio pada saat radio receiver menerima sinyal SSB, pastikan rangkaian BFO mempunyai grounding yang baik, kalau perlu buat ruang untuk grounding yang cukup luas di PCB BFO.

Untuk mengoperasikan alat ini, pertama-tama dengarkan SSB yang diinginkan (terdeteksi dari suara kwek bebek) atau sinyal CW di radio penerima SW. aktifkan BFO, tala akhir sekarang dilakukan dengan memutar inti trafo IF (IF can) pada BFO sampai SSB terdengar “audibel”. sesuaikan tuning pada radio penerima untuk mendapat hasil terbaik. penyesuaian tuning harus dilakukan secara perlahan, karena bandwidth sinyal SSB memang sangat sempit, apalagi kalau jenis radio penerimanya adalah jenis radio analog pocket atau portabel. kalau knob tuning pada radio penerima terlalu kecil diameternya, maka sebaiknya diganti dengan knob yang diameternya lebih besar supaya lebih mudah dan halus dalam penalaan frekuensi SSB. bisa juga dengan menambah “fine tuning”, seperti pada referensi di link berikut:
http://hanssummers.com/superdrg/superdrgfinetune.html
pada titik di mana sinyal osilator BFO 455KHz terdengar mem-beat atau mencampur dengan transmisi SSB, maka kita bisa mendengarkan komunikasi SSB tersebut. untuk mode CW, tuning tidak terlalu kritis, penyesuaian di sekitar frekuensi transmisi hanya akan mengubah pitch suara.Tapi untuk penerimaan yang baik di SSB, tuning cukup kritis.

Kopling langsung dari output BFO ke antenna radio receiver tidak diperlukan, karena bisa menyebabkan gangguan pada radio receiver. jika sinyal BFO terlalu kuat, jauhkan antenna BFO beberapa cm dari radio. di bawah ini adalah foto rangkaian BFO yang saya rakit sendiri

Performance: untuk performa dan efektivitas BFO untuk me-resolve SSB pada radio penerima tergantung banyak faktor: seperti propagasi, antenna, sensitivitas radio penerima, frequency drift, penalaan, catu daya. untuk stabilitas BFO sebaiknya gunakan catu daya dari baterai dengan kapasitas yang besar, saya sendiri menggunakan baterai 4,1 Volt 4800mAH (saya ambil dari cell baterai laptop bekas dan kondisinya ternyata masih bagus). beberapa versi BFO lainnya bahkan ada yang menggunakan dioda zener, kristal, dan keramik filter untuk menstabilkan BFO. radio pocket atau radio portabel yang berharga murah biasanya juga punya masalah pada pergeseran frekuensi (frequency drift) setelah dinyalakan dalam beberapa waktu. untuk penerimaan SSB sebaiknya gunakan radio receiver yang punya kestabilan frekuensi yang baik. dari pengalaman saya, dengan radio portabel analog 10 band merk Tens (identik dengan radio Sangean SG-789), BFO, dan hanya dengan antenna kabel panjang sekitar 2,5 meter, pada pagi hari saya bisa mendengarkan komunikasi dari stasiun amatir SSB pada frekuensi sekitar 7,0 MHz dan 6,2 MHz dari daerah Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Sumatra dengan cukup jelas dan baik. lokasi saya berada di kota Cepu Jawa Tengah. untuk siang hari dan sore hari, saya hanya bisa menangkap stasiun SSB dari pulau Jawa saja, apakah hal ini karena pengaruh dari propagasi? mungkin saja…
kadang-kadang di beberapa frekuensi HF lainnya, saya juga bisa memonitor frekuensi komunikasi SSB pelayaran yang sedang aktif dengan radio ini.

untuk meningkatkan performa penerimaan, silakan gunakan antenna kabel. semakin panjang semakin bagus hasilnya. koneksikan ke input eksternal antenna yang ada di receiver, jika tidak ada input eksternal antenna pada receiver, maka bisa dibuat sendiri dengan menambah kopling kapasitor 47 pF dan diseri dengan antenna kabel, kemudian ujung kapasitor lainnya dihubungkan pada antenna whip telescopic radio.

cara lain dengan dua radio untuk meresolve SSB
untuk cara yang ini belum saya coba, tapi dari beberapa referensi mengatakan cara ini juga bisa digunakan untuk me-resolve SSB di radio receiver SW biasa. Pertama, kita akan membutuhkan antenna luar atau antenna kabel eksternal. Karena perangkat radio penerima portabel SW yang biasa umumnya tidak sensitif untuk menerima transmisi daya yang rendah seperti pada stasiun SSB. Sebagian besar amatir menggunakan daya di bawah 100 watt (stasiun broadscast dapat menggunakan 4000 atau 5000 watt!). Seorang operator radio amatir pemula dapat ditemukan beroperasi dengan daya serendah 0,5 watt! Langkah pertama adalah untuk menemukan transmisi radio SSB pada radio penerima utama (pencarian untuk audio seperti “ber-kwek bebek”) disetel ke frekuensi SSB ( masing-masing di 40m band atau 20m band , yaitu antara 7,0-7,1 MHz atau 14,0-14,3 MHz).  dari pengalaman saya sendiri kalau sore dan pagi hari biasanya banyak radio amatir SSB yang mengudara di frekuensi di antara 6 MHz sampai 7 MHz bahkan kadang sampai tengah malam , cari saja ke frekuensi pada range tersebut kalau ingin mendengarkan SSB. Setelah stasiun amatir kuat telah terdeteksi, langkah berikutnya adalah untuk membawa penerima saku (yang volumenya sudah dikecilkan) di dekat ke penerima utama. Set radio saku juga harus disetel ke frekuensi yang dekat dengan frekuensi di mana transmisi amatir SSB diterima. Dengan cara ini, frekuensi yang dihasilkan oleh osilator lokal dari radio saku dapat dibuat untuk menghasilkan efek heterodyne dalam penerima utama sehingga membuat sinyal SSB bisa audibel. Teknik ini tentu saja membutuhkan kesabaran Anda.

untuk desain lain dari BFO, bisa anda cari sendiri referensinya di Google. cukup banyak mulai dari menggunakan crystal sampai filter keramik.
—-00——
silakan kunjungi juga posting menarik lainnya berikut ini:

>> Radio receiver dan hobby monitoring frekuensi radio

>> Sudah Jutaan Rupiah saya raup dari situs survey online ini

>> Menulis & memposting  artikel bisa menghasilkan Dollar

>> Kumpulan artikel tentang tanaman dan buah Strawberry

>> The Benefits Binoculars for Astronomy Part I

>> Aneka antenna wifi untuk nembak hotspot atau RTRWnet

>> Manfaat buah Mangga untuk kesehatan

>> Deep Space Objects on Big Dipper Part I

>> Orion Nebula, One of The Most Photographed Celestial Object

Saya mungkin bisa dibilang seorang penggemar, pehobi, pendengar siaran dan juga monitoring frekuensi radio. mungkin ada sebagian orang yang menganggap bahwa hobby monitoring frekuensi radio adalah hobby yang mahal, dikarenakan harga scanner yang bisa sampai jutaan Rupiah. tapi bagi saya hobby monitoring itu tidak harus mahal atau harus mengeluarkan isi dompet dalam-dalam…
saya sangat terbantu oleh adanya Internet, karena telah memberi banyak informasi tentang apa saja yang saya ingin tahu tentang elektronika, radio, dan radio komunikasi. walaupun saya bukanlah salah satu kolektor radio yang mungkin telah memiliki atau mengoleksi perangkat radio receiver yang jumlahnya banyak.
monitoring frekuensi radio termasuk salah satu hobby saya sejak kecil. waktu zaman saya masih sekolah dulu, saya suka sekali mendengarkan siaran radio SW lewat radio transistor 5 band jadul milik ayah saya.
radio tersebut sepertinya diproduksi kira-kira pada era tahun 1980an, merknya National Panasonic tipe RF-4535B. dulu waktu saya masih kecil, radio tersebut digunakan oleh Ayah saya untuk mendengarkan siaran radio SW luar negeri. mungkin anda juga pernah mendengarkan band SW (short wave) pada siaran radio Australia bahasa Indonesia atau VOA Amerika?

kelebihan radio ini sangat peka atau sensitif menerima sinyal Radio karena sudah dilengkapi juga dengan RF amplifier built-in, bahkan dulu saya sering memonitor radio komunikasi amatir 80 meter (3,5 MHz) dengan radio itu hanya dengan antenna telescopic. saya bisa mendengar beberapa pemancar 80 meter band dari berbagai kota di pulau Jawa bahkan dari pulau Madura juga. yang membuat saya tertarik pada saat itu adalah komunikasi yang bisa menjangkau jarak jauh, berasal dari luar kota yang jaraknya cukup jauh dari lokasi tempat tinggal saya. untuk penerimaan SSB akan terasa aneh terdengar lewat radio ini, karena suaranya akan mirip dengan “suara bebek”, maklum radio ini bukan radio penerima yang dilengkapi dengan BFO, jadi tidak bisa digunakan secara full untuk penerimaan di mode SSB, sayang sekali padahal untuk pemancar yang pakai SSB banyak yang tertangkap di radio ini. walaupun radio ini masih bisa hidup sampai sekarang akan tetapi sebagian besar modulasinya sudah hilang, mungkin ada komponen yang sudah saatnya diganti.
bagaimanapun radio ini banyak meninggalkan banyak kenangan masa kecil.

untuk saat ini saya masih suka memonitor frekuensi radio, walaupun hanya beberapa jalur (band) yang bisa saya dengarkan oleh karena keterbatasan alat yang saya punya. frekuensi yang bisa jangkau ada di jalur HF, VHF, UHF karena memang perangkat radio receiver yang saya punyai sudah mendukung band tersebut.
HF AM di 80 meter band, VHF FM 68 MHz – 108 MHz, VHF AM Airband, VHF FM 136 MHz – 174 MHz, UHF FM 400 MHz – 470 MHz.

pada foto diatas menunjukkan beberapa radio receiver yang saya punyai saat ini. yaitu Weierwei UV-3R VHF/UHF transceiver, Tens FM stereo/AM/SW receiver, dan VHF Airband Super-Regenerative receiver. mungkin akan lebih praktis kalau pakai scanner all band all mode, cukup satu tapi bisa semua. tapi kalau soal harga pastilah scanner seperti itu tergolong cukup mahal…. OK, saya bahas satu-persatu radio receiver yang saya punya berikut dibawah ini:

Super-Regenerative Airband Receiver portabel
radio penerima Airband ini merupakan hasil buatan saya sendiri, cukup sederhana rangkaiannya dan Super-regenerative receiver sudah terkenal dengan sensitivity-nya. untuk lebih jelasnya silakan lihat pada posting saya yang berjudul “membuat radio airband receiver portabel“, untuk membacanya silakan klik DISINI.

kelebihan: rangkaian sederhana, mudah dibuat, minim komponen, sensitifitas atau kepekaan cukup tinggi, bisa dibuat sangat portabel.
kekurangan: selektifitas kurang baik, sangat kontras dengan radio receiver jenis heterodyne.
bagi yang belum kenal dengan radio jenis super-regenerative pasti akan mengalami kesulitan mengoperasikannya untuk pertama kali. rangkaian yang berperan sebagai detector AM, juga merupakan osilator (pemancar aktif) sehingga bisa menimbulkan interferensi. interferensi ini sebenarnya bisa dicegah dengan menambah rangkaian RF stage di antara detector dengan antenna, seperti yang sering ditemui pada radio super-regenerative receiver rancangan Charles Kitchin N1TEV.

jenis radio receiver Airband lainnya yang tidak menimbulkan interferensi adalah “The Passive Aircraft Receiver”, rangkaiannya bisa dilihat di link berikut:
http://www.techlib.com/electronics/aircraft.htm
kelebihan rangkaian tersebut adalah tidak menginterferensi komunikasi pesawat sehingga aman dibawa kemanapun termasuk di dalam cockpit pesawat terbang (aircraft). kekurangannya adalah sensitifitas penerimaan sinyal yang kurang, hanya bisa menangkap sinyal yang kuat atau dekat saja. untuk meningkatkan kepekaan penerimaan sinyal untuk Passive Aircraft Receiver (Airband), maka diperlukan rangkaian tambahan VHF airband RF pre-amplifier. rangkaian tambahan VHF airband RF pre-amplifier yang saya sarankan bisa dilihat dengan klik DISINI.

Tens portabel receiver FM stereo/MW/SW
Tens portabel receiver ini mungkin bisa dibilang termasuk radio lawas, buatan era 90an yang masih menggunakan transistor dan komponen non SMD. jadi kalau dibandingkan dengan Radio Receiver SW yang lebih modern semacam Tecsun PL 660, Sony ICF 7600G, Sangean ATS505, Grundig G6 atau Degen DE1103, tentu sangat jauh bedanya…
untuk membandingkan performa dari berbagai model radio receiver; KA11, DE1105, G6 Aviator, KA1101, PL-450, KA1102, DE1103, DE1121, PL-600, PT-80, G4000A, ATS-909X, ATS-505P, RP2100, Satellit 750, G3, PL-660, SW7600GR, dll, silakan download file PDF pada link berikut ini:
http://www.home.comcast.net/~phils_radio_design/2011_SW_Guide.pdf
OK, kembali ke topik… radio Tens tersebut sering saya gunakan untuk mendengarkan FM radio stereo via headphone dan juga monitoring frekuensi favorit saya di 80 meter band. ramai sekali di jalur SW AM 80 meter band ini terutama kalau sore hari dan kadang pada malam dan pagi hari. tapi biasanya penerimaan yang paling bagus pada waktu tengah malam, mungkin ini berkaitan dengan propagasi dan berkurangnya interferensi/gangguan noise saat tengah malam. banyak yang terdeteksi di sekitar frekuensi 3,7 MHz sampai 4,0 MHz jumlahnya pemancar yang bisa tertangkap kadang bisa sampai sekitar 10an atau lebih (kalau pas lagi weekend atau menjelang hari libur).
kelebihan:
ukurannya mini dan portabel, selectivity bagus, penerimaan sinyal cukup sensitif walau cuma mengandalkan antenna dari kabel kawat tembaga tunggal dengan panjang sekitar 120 cm.
sound via headphone Keenion (<<– ) untuk FM stereo very excellent, bass mantap, treble terasa, dan efek sound stage juga mantap.
kelemahan: tidak support AM mode SSB, dan untuk SW tidak full band.

saya juga berencana ingin membuat radio regenerative receiver untuk penerimaan SW SSB/CW, karena sebenarnya regenerative dan super-regenerative receiver bisa difungsikan untuk penerimaan wide range all mode, yaitu: Regenerative (untuk AM/SW/CW/SSB) dan Superregenerative (untuk VHF FM broadcast/VHF aircraft).
untuk referensinya bisa dilihat pada link-link berikut:
http://www.ke3ij.com/JFETrgn.htm
http://www.mikroe.com/old/books/rrbook/chapter3/chapter3f.htm
http://pa2ohh.com/03rega.htm
http://pa2ohh.com/02reg.htm
lihat juga referensi penting lainnya pada file PDF berjudul “High Performance Regenerative Receiver Design” yang ditulis oleh Charles Kitchin N1TEV, file tersebut bisa di download di:
http://www.arrl.org/files/file/Technology/tis/info/pdf/9811qex026.pdf
untuk sumber referensi lainnya bisa langsung search di Google dengan kata kunci (keyword) “simple regenerative SW SSB receiver”.

Weierwei UV-3R VHF/UHF Tranceiver
mungkin brand yang diusung oleh HT ini belum sekelas HT branded ternama seperti Yaesu, Kenwood, Alinco atau Icom. tapi anda jangan salah kira, UV-3R termasuk salah satu HT transceiver yang mendapat sambutan cukup positif di seluruh dunia. selain kelebihannya dari segi harga yang value, ternyata kualitas penerimaan juga boleh diadu dengan HT branded lainnya. walaupun radio ini bukan scanner, tapi kalau soal penerimaan sinyal bisa dibilang cukup sensitif. dengan memakai antenna asli bawaan, saat pagi atau malam kadang saya bisa mendengarkan salah satu repeater (dengan sinyal sekitar S3 dari full s10) di jalur VHF yang kemungkinan besar menurut dugaan saya, dipasang di daerah Ungaran yang notabene terletak lebih tinggi dari kota Semarang. jarak tempat kota saya yaitu Cepu ke kota Semarang kurang lebih ada sekitar 120 Km. saya tidak tahu apakah repeater itu milik Jasamarga atau Polantas daerah Ungaran, tetapi masih berhubungan dengan lalu-lintas dan jalan di kota Ungaran dan sekitarnya. Weierwei UV-3R ini sebenarnya identik dengan UV-3R lainnya tapi dengan merk berbeda misalnya HT Baofeng UV3R. walaupun ini merupakan radio komunikasi dua arah atau biasa disebut Tranceiver, tapi saya hanya menggunakannya untuk monitoring frekuensi di jalur VHF dan UHF. menurut saya penerimaan (sensitivity) UV-3R ini sangat bagus, cuma memakai antenna bawaan saja sudah banyak frekuensi yang bisa dipantau…

setelah membaca posting saya ini, ada baiknya anda juga baca posting saya yang berjudul “Radio SW biasa bisa dijadikan SSB receiver“, silakan klik DISINI untuk mengunjungi posting tersebut.
—-0000—-

silakan kunjungi juga posting-posting saya yang lainnya:

>> Membuat radio penerima Shortwave (SW receiver) sederhana
>> Kumpulan artikel tentang tanaman dan buah Strawberry
>> Sudah Jutaan Rupiah saya raup dari situs survey online ini
>> Sudah $82.06 saya raup dari Triond via Paypal
>> Test The Speed of Flash Disk with Check Flash
>> Some Fruit That Can Sharpness Your Brain