Saya sudah beberapa kali membuat sendiri rangkaian penguat antenna untuk UHF TV dengan menggunakan transistor, dan belum berhasil karena hasilnya sama saja jika tidak pakai. entah apa penyebabnya, bisa jadi karena rangkaian tersebut tidak match impedansinya, rangkaian berisolasi,  stray capacitance & stray inductance dari komponen, terlalu banyak kemungkinan.

dari beberapa referensi di internet saya mengetahui bahwa ada alternatif lain  yaitu menggunakan komponen MMIC, apa itu MMIC? silakan baca pada posting saya berikut –>  Mengenal komponen elektronika: MMIC

beberapa keuntungan menggunakan komponen MMIC untuk penguat antenna yaitu:

rangkaian booster menjadi sangat sederhana, bisa dibuat sistem masthead (booster di dekat antenna dan power supply diumpan dari bawah), rangkaian stabil, penguatan tinggi, wideband, bisa dirangkai secara cascade untuk meningkatkan gain, komponen MMIC cukup murah harganya.

silakan baca posting saya —>  Membuat penguat (booster) antenna murah meriah

dari pengalaman saya menggunakan MMIC untuk rangkaian penguat (booster) antenna UHF didapat hasil yang bagus, ada peningkatan kualitas penerimaan dan gambar di TV juga terlihat lebih jelas dari sebelumnya. untuk lebih jelasnya silakan simak posting saya berikut ini:

bagian pertama —> Membuat booster antena TV UHF dengan MMIC
bagian kedua    —> Hasil uji coba booster antena TV UHF dengan MMIC

Speaker Aktif 2.1 adalah speaker aktif yang terdiri dari sistem speaker 1 Subwoofer dan 2 speaker satelit (R/L). pada kesempatan ini saya coba menunjukkan salah satu desain speaker aktif 2.1 dari merk Speaker Aktif yang sudah cukup terkenal yaitu Altec Lansing.  desain speaker satelit dengan konfigurasi down firing untuk driver mid-bass, kembali dihadirkan oleh Altec Lansing melalui produknya seri VS4621 atau dikenal dengan OCTANE7.

keterangan gambar:

1.speaker satelit didesain dengan konfigurasi down-firing untuk driver (speaker) mid-bass. dengan desain ini, Altec Lansing ingin dapat menghadirkan tingkatan performa produk maupun kualitas yang tidak bisa dianggap enteng, bahkan untuk dimensi speaker maupun power yang tidak besar. tujuan dari down-firing sendiri untuk mendapatkan kreasi suara yang lebih menyebar keseluruh ruang pendengaran. jadi tidak terpaku pada satu titik sumber audio.

2. pada desain Subwoofer-nya menggunakan pendekatan yang tetap konvensional, berupa enclosure persegi dengan menerapkan tipe ported. untuk desain pada subwoofer ini, meski dengan tingkatannya yang standar, ia tetap dapat menghadirkan kualitas suara tinggi tanpa noise yang cukup berarti. bahkan ini berlaku pada putaran volume tinggi. satu hal yang positif  yaitu semua diraih dengan kebutuhan daya yang tidak terlalu besar.

3.sedikit ganjalan dalam desain, driver subwoofer tidak dilengkapi dengan grill/pelindung penutup. dimana bila kurang berhati-hati dalam menangani box subwoofer, kemungkinan akan menyebabkan rusaknya membran speaker subwoofer.

4.pada sisi kontrol operasional, speaker ini hanya menyediakan satu kendali yang berada pada speaker satelit. meski tergolong standar untuk kebanyakan speaker 2.1, namun untuk sekelas speaker seperti Altec Lansing, hal ini dianggap kurang. walaupun begitu pada kontrol sudah dilengkapi setting knop lengkap, bukan hanya untuk bass dan volume, tapi juga untuk setting treble.

5.speaker tweeter untuk menampilkan terble, ada 2 buah untuk tiap satelit. walaupun ukuran diameternya kecil, tapi akan tertutupi dengan jumlahnya yang ada 2 buah untuk tiap satelit (R/L).

sumber referensi:  PCmedia November 2010

—-00—-

silakan kunjungi juga posting-posting berikut ini:

>> Iconptc (ini juga salah satu blog yang saya punyai)

>> Membuat Box speaker Subwoofer desain sendiri

>> Membuat surround home theatre untuk komputer / laptop

>> Buat sendiri aneka macam audio amplifier

>> Keenion KDM-219 Headset Game, murah tapi tidak murahan

>> Intel HD is Not Enough for Serious Gaming

>> AMD E350 is Not Enough for Serious Gaming

>> Kumpulan artikel tentang kesehatan

Rangkaian dibawah ini adalah rangkaian adjustable power supply yang saya ekstrak dari ebook 101-200TransistorCircuits. rangkaian power supply ini bisa mencatu arus sampai 5 Ampere. tegangan output keluaran ditentukan oleh VR 5K. jika anda ingin menggunakan power supply ini, sebaiknya di sesuaikan dulu tegangan output power supply dengan spesifikasi tegangan maksimum pada alat yang ingin dicatu. cek tegangan keluaran power supply dengan menggunakan alat multitester atau voltmeter.

5V arus tinggi dengan regulator tegangan LM7805

salah satu contoh rangkaian power supply 5V arus tinggi dengan menggunakan IC LM7805. Rangkaian di bawah ini adalah cukup sederhana untuk meningkatkan arus keluaran dari regulator tegangan IC 7805/78xx . Hanya perlu beberapa komponen eksternal dari transistor PNP, beberapa resistor dan kapasitor, maka power supply 5V ini  telah mampu melayani arus beban lebih besar dari 1A.

untuk menambah referensi tentang power supply, silakan baca juga posting saya yang berjudul :

>> Rangkaian power supply, catu daya 12V 3A
>> Membuat adaptor, power supply, charger handphone (gadget)
>> Adaptor netbook/laptop rusak? di cek dulu saja

——–00——-

silakan kunjungi juga blog saya lainnya:  ->> iconptc.blogspot.com
kunjungi juga posting-posting menarik berikut ini:

>> Radio SW biasa bisa dijadikan SSB receiver

>> Test The Speed of Flash Disk with Check Flash

>> Some Fruit That Can Sharpness Your Brain

>> Manfaat buah manggis untuk kesehatan

>> Benefits & Secrets of Young Coconut Water

>> Radio receiver dan hobby monitoring frekuensi radio

Operator radio amatir kebanyakan lebih memilih untuk beroperasi pada mode SSB (single sideband) dan CW, karena membawa sinyal melalui jarak yang lebih jauh bila dibanding mode AM untuk daya pemancar yang sama. Radio Penerima siaran SW biasa tidak ditujukan untuk langsung menerima transmisi pada SSB dan CW (kode Morse). radio Gelombang pendek atau shortwave pada umumnya memerlukan tambahan alat jika ingin dijadikan SSB CW receiver, yaitu dengan BFO (beat oscillator frequency), yang merupakan osilator RF dari jenis konvensional. Output dari BFO yang heterodyned bercampur dengan frekuensi lain untuk memperoleh frekuensi akhir (selisih dari dua frekuensi) terbentang dalam kisaran audio (sekitar 1kHz). Radio percakapan komunikasi amatir (HAM) mode SSB jika kita dengarkan pada radio Shortwave biasa maka akan terdengar seperti suara ‘kwek Bebek’ dan tidak terdengar jelas. radio SW biasa ditujukan untuk menerima sinyal di mode AM saja dan tidak menerima sinyal mode SSB. sebuah unit terpisah diperlukan pada tahap ‘Detector’ dari penerima AM, yang tidak lain adalah ‘Generator Frekuensi’ stabil ( RF Oscillator), yang disebut ‘Beat Frequency Oscillator’ (BFO). BFO ini digunakan untuk menampilkan ‘Frekuensi carrier lokal’ (frekuensi SSB umumnya adalah 10 sampai 20 Hertz selisih dari frekuensi carrier pemancar yang dihilangkan pada pemancar stasiun radio amatir dengan tujuan untuk menghemat daya).

Teknik lain yang populer untuk mendengarkan stasiun amatir SSB pada radio penerima biasa adalah dengan menggunakan dua set radio. dalam teknik improvisasi, satu set radio bertindak sebagai BFO, yang lain bertindak sebagai penerima SSB. kedua radio tersebut harus diletakkan secara berdekatan. Kontrol volume tombol set radio yang digunakan sebagai BFO harus disetel pada minimum. Biasanya radio saku 3 band (AM/FM/SW) dapat sesuai digunakan sebagai BFO.

BFO dapat digunakan untuk mendapatkan catatan audio dari penerimaan CW dan juga untuk mengatasi sinyal SSB. Sebuah sinyal SSB ditransmisikan tanpa sinyal pembawa (carrier). Dalam receiver biasa, tidak menghasilkan suara yang jelas. Ketika BFO di hidupkan maka sinyal ter-heterodyne dengan sinyal SSB, ini bertindak seperti RF pembawa dan sinyal SSB bisa diselesaikan dengan baik sehingga bisa didengarkan.
Berikut ini adalah rangkaian BFO dari Jim G4NWJ, seperti yang terlihat pada link berikut:

http://www.hanssummers.com/superdrg/superdrgbfo.html


dibawah ini adalah rangkaian BFO Jim G4NWJ yang sudah saya tambahi sendiri dengan antenna dan LED:

rangkaian cukup sederhana, transistor 2N2222 bisa diganti dengan BC109. untuk 455KHz IF can (trafo IF) bisa menggunakan inti yang warna kuning atau hitam, biasanya yang warna kuning ada di radio AM. saya sendiri memakai 455KHz IF can dengan inti yang warna kuning, saya ambil dari board radio tape bekas yang sudah rusak. hubungkan body trafo IF dengan ground. transistor yang saya gunakan BC109C. antenna BFO bisa dari kabel atau kawat dengan panjang 20 cm, dekatkan dengan radio. jika sinyal BFO terlalu kuat, jauhkan antenna BFO beberapa cm dari radio. untuk meminimalisir distorsi audio pada saat radio receiver menerima sinyal SSB, pastikan rangkaian BFO mempunyai grounding yang baik, kalau perlu buat ruang untuk grounding yang cukup luas di PCB BFO.

Untuk mengoperasikan alat ini, pertama-tama dengarkan SSB yang diinginkan (terdeteksi dari suara kwek bebek) atau sinyal CW di radio penerima SW. aktifkan BFO, tala akhir sekarang dilakukan dengan memutar inti trafo IF (IF can) pada BFO sampai SSB terdengar “audibel”. sesuaikan tuning pada radio penerima untuk mendapat hasil terbaik. penyesuaian tuning harus dilakukan secara perlahan, karena bandwidth sinyal SSB memang sangat sempit, apalagi kalau jenis radio penerimanya adalah jenis radio analog pocket atau portabel. kalau knob tuning pada radio penerima terlalu kecil diameternya, maka sebaiknya diganti dengan knob yang diameternya lebih besar supaya lebih mudah dan halus dalam penalaan frekuensi SSB. bisa juga dengan menambah “fine tuning”, seperti pada referensi di link berikut:

http://hanssummers.com/superdrg/superdrgfinetune.html

pada titik di mana sinyal osilator BFO 455KHz terdengar mem-beat atau mencampur dengan transmisi SSB, maka kita bisa mendengarkan komunikasi SSB tersebut. untuk mode CW, tuning tidak terlalu kritis, penyesuaian di sekitar frekuensi transmisi hanya akan mengubah pitch suara.Tapi untuk penerimaan yang baik di SSB, tuning cukup kritis.

Kopling langsung dari output BFO ke antenna radio receiver tidak diperlukan, karena bisa menyebabkan gangguan pada radio receiver. jika sinyal BFO terlalu kuat, jauhkan antenna BFO beberapa cm dari radio. di bawah ini adalah foto rangkaian BFO yang saya rakit sendiri

Performance: untuk performa dan efektivitas BFO untuk me-resolve SSB pada radio penerima tergantung banyak faktor: seperti propagasi, antenna, sensitivitas radio penerima, frequency drift, penalaan, catu daya. untuk stabilitas BFO sebaiknya gunakan catu daya dari baterai dengan kapasitas yang besar, saya sendiri menggunakan baterai 4,1 Volt 4800mAH (saya ambil dari cell baterai laptop bekas dan kondisinya ternyata masih bagus). beberapa versi BFO lainnya bahkan ada yang menggunakan dioda zener, kristal, dan keramik filter untuk menstabilkan BFO. radio pocket atau radio portabel yang berharga murah biasanya juga punya masalah pada pergeseran frekuensi (frequency drift) setelah dinyalakan dalam beberapa waktu. untuk penerimaan SSB sebaiknya gunakan radio receiver yang punya kestabilan frekuensi yang baik. dari pengalaman saya, dengan radio portabel analog 10 band merk Tens (identik dengan radio Sangean SG-789), BFO, dan hanya dengan antenna kabel panjang sekitar 2,5 meter, pada pagi hari saya bisa mendengarkan komunikasi dari stasiun amatir SSB pada frekuensi sekitar 7,0 MHz dan 6,2 MHz dari daerah Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Sumatra dengan cukup jelas dan baik. lokasi saya berada di kota Cepu Jawa Tengah. untuk siang hari dan sore hari, saya hanya bisa menangkap stasiun SSB dari pulau Jawa saja, apakah hal ini karena pengaruh dari propagasi? mungkin saja…
kadang-kadang di beberapa frekuensi HF lainnya, saya juga bisa memonitor frekuensi komunikasi SSB pelayaran yang sedang aktif dengan radio ini.

untuk meningkatkan performa penerimaan, silakan gunakan antenna kabel. semakin panjang semakin bagus hasilnya. koneksikan ke input eksternal antenna yang ada di receiver, jika tidak ada input eksternal antenna pada receiver, maka bisa dibuat sendiri dengan menambah kopling kapasitor 47 pF dan diseri dengan antenna kabel, kemudian ujung kapasitor lainnya dihubungkan pada antenna whip telescopic radio.

cara lain dengan dua radio untuk meresolve SSB
untuk cara yang ini belum saya coba, tapi dari beberapa referensi mengatakan cara ini juga bisa digunakan untuk me-resolve SSB di radio receiver SW biasa. Pertama, kita akan membutuhkan antenna luar atau antenna kabel eksternal. Karena perangkat radio penerima portabel SW yang biasa umumnya tidak sensitif untuk menerima transmisi daya yang rendah seperti pada stasiun SSB. Sebagian besar amatir menggunakan daya di bawah 100 watt (stasiun broadscast dapat menggunakan 4000 atau 5000 watt!). Seorang operator radio amatir pemula dapat ditemukan beroperasi dengan daya serendah 0,5 watt! Langkah pertama adalah untuk menemukan transmisi radio SSB pada radio penerima utama (pencarian untuk audio seperti “ber-kwek bebek”) disetel ke frekuensi SSB ( masing-masing di 40m band atau 20m band , yaitu antara 7,0-7,1 MHz atau 14,0-14,3 MHz).  dari pengalaman saya sendiri kalau sore dan pagi hari biasanya banyak radio amatir SSB yang mengudara di frekuensi di antara 6 MHz sampai 7 MHz bahkan kadang sampai tengah malam , cari saja ke frekuensi pada range tersebut kalau ingin mendengarkan SSB. Setelah stasiun amatir kuat telah terdeteksi, langkah berikutnya adalah untuk membawa penerima saku (yang volumenya sudah dikecilkan) di dekat ke penerima utama. Set radio saku juga harus disetel ke frekuensi yang dekat dengan frekuensi di mana transmisi amatir SSB diterima. Dengan cara ini, frekuensi yang dihasilkan oleh osilator lokal dari radio saku dapat dibuat untuk menghasilkan efek heterodyne dalam penerima utama sehingga membuat sinyal SSB bisa audibel. Teknik ini tentu saja membutuhkan kesabaran Anda.

untuk desain lain dari BFO, bisa anda cari sendiri referensinya di Google. cukup banyak mulai dari menggunakan crystal sampai filter keramik.
—-00——
silakan kunjungi juga posting menarik lainnya berikut ini:

>> Radio receiver dan hobby monitoring frekuensi radio

>> Sudah Jutaan Rupiah saya raup dari situs survey online ini

>> Menulis & memposting  artikel bisa menghasilkan Dollar

>> Kumpulan artikel tentang tanaman dan buah Strawberry

>> The Benefits Binoculars for Astronomy Part I

>> Aneka antenna wifi untuk nembak hotspot atau RTRWnet

>> Manfaat buah Mangga untuk kesehatan

>> Deep Space Objects on Big Dipper Part I

>> Orion Nebula, One of The Most Photographed Celestial Object

Saya mungkin bisa dibilang seorang penggemar, pehobi, pendengar siaran dan juga monitoring frekuensi radio. mungkin ada sebagian orang yang menganggap bahwa hobby monitoring frekuensi radio adalah hobby yang mahal, dikarenakan harga scanner yang bisa sampai jutaan Rupiah. tapi bagi saya hobby monitoring itu tidak harus mahal atau harus mengeluarkan isi dompet dalam-dalam…
saya sangat terbantu oleh adanya Internet, karena telah memberi banyak informasi tentang apa saja yang saya ingin tahu tentang elektronika, radio, dan radio komunikasi. walaupun saya bukanlah salah satu kolektor radio yang mungkin telah memiliki atau mengoleksi perangkat radio receiver yang jumlahnya banyak.
monitoring frekuensi radio termasuk salah satu hobby saya sejak kecil. waktu zaman saya masih sekolah dulu, saya suka sekali mendengarkan siaran radio SW lewat radio transistor 5 band jadul milik ayah saya.
radio tersebut sepertinya diproduksi kira-kira pada era tahun 1980an, merknya National Panasonic tipe RF-4535B. dulu waktu saya masih kecil, radio tersebut digunakan oleh Ayah saya untuk mendengarkan siaran radio SW luar negeri. mungkin anda juga pernah mendengarkan band SW (short wave) pada siaran radio Australia bahasa Indonesia atau VOA Amerika?

kelebihan radio ini sangat peka atau sensitif menerima sinyal Radio karena sudah dilengkapi juga dengan RF amplifier built-in, bahkan dulu saya sering memonitor radio komunikasi amatir 80 meter (3,5 MHz) dengan radio itu hanya dengan antenna telescopic. saya bisa mendengar beberapa pemancar 80 meter band dari berbagai kota di pulau Jawa bahkan dari pulau Madura juga. yang membuat saya tertarik pada saat itu adalah komunikasi yang bisa menjangkau jarak jauh, berasal dari luar kota yang jaraknya cukup jauh dari lokasi tempat tinggal saya. untuk penerimaan SSB akan terasa aneh terdengar lewat radio ini, karena suaranya akan mirip dengan “suara bebek”, maklum radio ini bukan radio penerima yang dilengkapi dengan BFO, jadi tidak bisa digunakan secara full untuk penerimaan di mode SSB, sayang sekali padahal untuk pemancar yang pakai SSB banyak yang tertangkap di radio ini. walaupun radio ini masih bisa hidup sampai sekarang akan tetapi sebagian besar modulasinya sudah hilang, mungkin ada komponen yang sudah saatnya diganti.
bagaimanapun radio ini banyak meninggalkan banyak kenangan masa kecil.

untuk saat ini saya masih suka memonitor frekuensi radio, walaupun hanya beberapa jalur (band) yang bisa saya dengarkan oleh karena keterbatasan alat yang saya punya. frekuensi yang bisa jangkau ada di jalur HF, VHF, UHF karena memang perangkat radio receiver yang saya punyai sudah mendukung band tersebut.
HF AM di 80 meter band, VHF FM 68 MHz – 108 MHz, VHF AM Airband, VHF FM 136 MHz – 174 MHz, UHF FM 400 MHz – 470 MHz.

pada foto diatas menunjukkan beberapa radio receiver yang saya punyai saat ini. yaitu Weierwei UV-3R VHF/UHF transceiver, Tens FM stereo/AM/SW receiver, dan VHF Airband Super-Regenerative receiver. mungkin akan lebih praktis kalau pakai scanner all band all mode, cukup satu tapi bisa semua. tapi kalau soal harga pastilah scanner seperti itu tergolong cukup mahal…. OK, saya bahas satu-persatu radio receiver yang saya punya berikut dibawah ini:

Super-Regenerative Airband Receiver portabel
radio penerima Airband ini merupakan hasil buatan saya sendiri, cukup sederhana rangkaiannya dan Super-regenerative receiver sudah terkenal dengan sensitivity-nya. untuk lebih jelasnya silakan lihat pada posting saya yang berjudul “membuat radio airband receiver portabel“, untuk membacanya silakan klik DISINI.

kelebihan: rangkaian sederhana, mudah dibuat, minim komponen, sensitifitas atau kepekaan cukup tinggi, bisa dibuat sangat portabel.
kekurangan: selektifitas kurang baik, sangat kontras dengan radio receiver jenis heterodyne.
bagi yang belum kenal dengan radio jenis super-regenerative pasti akan mengalami kesulitan mengoperasikannya untuk pertama kali. rangkaian yang berperan sebagai detector AM, juga merupakan osilator (pemancar aktif) sehingga bisa menimbulkan interferensi. interferensi ini sebenarnya bisa dicegah dengan menambah rangkaian RF stage di antara detector dengan antenna, seperti yang sering ditemui pada radio super-regenerative receiver rancangan Charles Kitchin N1TEV.

jenis radio receiver Airband lainnya yang tidak menimbulkan interferensi adalah “The Passive Aircraft Receiver”, rangkaiannya bisa dilihat di link berikut:
http://www.techlib.com/electronics/aircraft.htm
kelebihan rangkaian tersebut adalah tidak menginterferensi komunikasi pesawat sehingga aman dibawa kemanapun termasuk di dalam cockpit pesawat terbang (aircraft). kekurangannya adalah sensitifitas penerimaan sinyal yang kurang, hanya bisa menangkap sinyal yang kuat atau dekat saja. untuk meningkatkan kepekaan penerimaan sinyal untuk Passive Aircraft Receiver (Airband), maka diperlukan rangkaian tambahan VHF airband RF pre-amplifier. rangkaian tambahan VHF airband RF pre-amplifier yang saya sarankan bisa dilihat dengan klik DISINI.

Tens portabel receiver FM stereo/MW/SW
Tens portabel receiver ini mungkin bisa dibilang termasuk radio lawas, buatan era 90an yang masih menggunakan transistor dan komponen non SMD. jadi kalau dibandingkan dengan Radio Receiver SW yang lebih modern semacam Tecsun PL 660, Sony ICF 7600G, Sangean ATS505, Grundig G6 atau Degen DE1103, tentu sangat jauh bedanya…
untuk membandingkan performa dari berbagai model radio receiver; KA11, DE1105, G6 Aviator, KA1101, PL-450, KA1102, DE1103, DE1121, PL-600, PT-80, G4000A, ATS-909X, ATS-505P, RP2100, Satellit 750, G3, PL-660, SW7600GR, dll, silakan download file PDF pada link berikut ini:
http://www.home.comcast.net/~phils_radio_design/2011_SW_Guide.pdf
OK, kembali ke topik… radio Tens tersebut sering saya gunakan untuk mendengarkan FM radio stereo via headphone dan juga monitoring frekuensi favorit saya di 80 meter band. ramai sekali di jalur SW AM 80 meter band ini terutama kalau sore hari dan kadang pada malam dan pagi hari. tapi biasanya penerimaan yang paling bagus pada waktu tengah malam, mungkin ini berkaitan dengan propagasi dan berkurangnya interferensi/gangguan noise saat tengah malam. banyak yang terdeteksi di sekitar frekuensi 3,7 MHz sampai 4,0 MHz jumlahnya pemancar yang bisa tertangkap kadang bisa sampai sekitar 10an atau lebih (kalau pas lagi weekend atau menjelang hari libur).
kelebihan:
ukurannya mini dan portabel, selectivity bagus, penerimaan sinyal cukup sensitif walau cuma mengandalkan antenna dari kabel kawat tembaga tunggal dengan panjang sekitar 120 cm.
sound via headphone Keenion (<<– ) untuk FM stereo very excellent, bass mantap, treble terasa, dan efek sound stage juga mantap.
kelemahan: tidak support AM mode SSB, dan untuk SW tidak full band.

saya juga berencana ingin membuat radio regenerative receiver untuk penerimaan SW SSB/CW, karena sebenarnya regenerative dan super-regenerative receiver bisa difungsikan untuk penerimaan wide range all mode, yaitu: Regenerative (untuk AM/SW/CW/SSB) dan Superregenerative (untuk VHF FM broadcast/VHF aircraft).
untuk referensinya bisa dilihat pada link-link berikut:
http://www.ke3ij.com/JFETrgn.htm
http://www.mikroe.com/old/books/rrbook/chapter3/chapter3f.htm
http://pa2ohh.com/03rega.htm
http://pa2ohh.com/02reg.htm
lihat juga referensi penting lainnya pada file PDF berjudul “High Performance Regenerative Receiver Design” yang ditulis oleh Charles Kitchin N1TEV, file tersebut bisa di download di:
http://www.arrl.org/files/file/Technology/tis/info/pdf/9811qex026.pdf
untuk sumber referensi lainnya bisa langsung search di Google dengan kata kunci (keyword) “simple regenerative SW SSB receiver”.

Weierwei UV-3R VHF/UHF Tranceiver
mungkin brand yang diusung oleh HT ini belum sekelas HT branded ternama seperti Yaesu, Kenwood, Alinco atau Icom. tapi anda jangan salah kira, UV-3R termasuk salah satu HT transceiver yang mendapat sambutan cukup positif di seluruh dunia. selain kelebihannya dari segi harga yang value, ternyata kualitas penerimaan juga boleh diadu dengan HT branded lainnya. walaupun radio ini bukan scanner, tapi kalau soal penerimaan sinyal bisa dibilang cukup sensitif. dengan memakai antenna asli bawaan, saat pagi atau malam kadang saya bisa mendengarkan salah satu repeater (dengan sinyal sekitar S3 dari full s10) di jalur VHF yang kemungkinan besar menurut dugaan saya, dipasang di daerah Ungaran yang notabene terletak lebih tinggi dari kota Semarang. jarak tempat kota saya yaitu Cepu ke kota Semarang kurang lebih ada sekitar 120 Km. saya tidak tahu apakah repeater itu milik Jasamarga atau Polantas daerah Ungaran, tetapi masih berhubungan dengan lalu-lintas dan jalan di kota Ungaran dan sekitarnya. Weierwei UV-3R ini sebenarnya identik dengan UV-3R lainnya tapi dengan merk berbeda misalnya HT Baofeng UV3R. walaupun ini merupakan radio komunikasi dua arah atau biasa disebut Tranceiver, tapi saya hanya menggunakannya untuk monitoring frekuensi di jalur VHF dan UHF. menurut saya penerimaan (sensitivity) UV-3R ini sangat bagus, cuma memakai antenna bawaan saja sudah banyak frekuensi yang bisa dipantau…

setelah membaca posting saya ini, ada baiknya anda juga baca posting saya yang berjudul “Radio SW biasa bisa dijadikan SSB receiver“, silakan klik DISINI untuk mengunjungi posting tersebut.
—-0000—-

silakan kunjungi juga posting-posting saya yang lainnya:

>> Membuat radio penerima Shortwave (SW receiver) sederhana
>> Kumpulan artikel tentang tanaman dan buah Strawberry
>> Sudah Jutaan Rupiah saya raup dari situs survey online ini
>> Sudah $82.06 saya raup dari Triond via Paypal
>> Test The Speed of Flash Disk with Check Flash
>> Some Fruit That Can Sharpness Your Brain

Posting ini merupakan kelanjutan dari posting pertama saya yang membahas “Membuat Radio Airband Receiver sederhana” yang bisa dilihat dengan klik DISINI.

radio receiver jenis regenerative dan super-regenerative receiver terkenal dengan rangkaiannya yang minim komponen tetapi sangat sensitif dalam penerimaan sinyalnya, untuk itulah sangat tidak mustahil untuk membuat Radio Airband menjadi portabel dan ringkas, sehingga bisa dibawa kemana-mana. berikut adalah rangkaian radio penerima Airband yang terdiri dari detector VHF AM dan dirangkai dengan penguat Audio dengan satu transistor (BC547). output audio harus dihubungkan dengan headphone yang sensitif atau audio amplifier eksternal jika memang dirasa keluaran audio masih kurang keras. di bawah ini adalah gambar skema rangkaian super-regenerative Airband receiver, klik untuk memperbesar gambarnya

walaupun hanya menggunakan antena telescopic (whip antenna), saya masih bisa menangkap sinyal dengan cukup jelas. 

kebetulan kota saya yaitu Cepu dilalui oleh jalur penerbangan Jakarta – Surabaya, jadi tidak sulit untuk menerima sinyal di jalur Airband. hampir sepanjang hari saya dengan mudah bisa menangkap komunikasi airband. untuk menguatkan sinyal penerimaan di jalur VHF Airband agar menambah daya jangkau penerimaan, silakan lihat pada posting saya di link berikut ini:

>> VHF pre amplifier versi 1

>> VHF pre amplifier versi 2

pre amplifier atau penguat sinyal booster diatas sebenarnya digunakan untuk penerima radio FM broadcast, akan tetapi bisa juga digunakan di jalur VHF (FM broadcast, AM Airband, dan amatir 2m). saya sudah mencobanya sendiri pada radio receiver yang saya punya  <<–.

untuk PCB bisa dibuat seperti pada gambar dibawah ini (klik untuk memperbesar gambar):


perhatikan juga konfigurasi kaki (pin) dari transistor C930 dan pin transistor BC547 pada gambar dibawah ini. letak pin B, C, dan E kedua transistor tersebut adalah berbeda walaupun bentuk kemasannya sama, jadi kalau terbalik saat dipasang bisa mengakibatkan receiver tidak bisa bekerja.

untuk mengetahui cara mengoperasikan radio ini, maka silakan kunjungi posting saya yang sebelumnya di link berikut:

http://arjip.wordpress.com/2010/07/13/membuat-radio-airband-receiver-sederhana/

yang perlu anda perhatikan, bahwa jenis radio super-regenerative Airband receiver ini mengandung detector yang sekaligus bersifat sebagai osilator (pemancar aktif), sehingga berpeluang menginterferensi atau bahkan akan mengganggu komunikasi pesawat. maka dari itu jangan membawa “Radio Airband receiver portabel” ini ke dalam cockpit pesawat.

radio Airband receiver lainnya yang tidak menimbulkan interferensi adalah “The Passive Aircraft Receiver”, rangkaiannya bisa dilihat di link berikut:

http://www.techlib.com/electronics/aircraft.htm

kelebihan rangkaian tersebut adalah tidak menginterferensi komunikasi pesawat sehingga aman dibawa kemanapun termasuk di dalam cockpit pesawat terbang (aircraft). kekurangannya adalah sensitifitas penerimaan sinyal yang kurang, hanya bisa menangkap sinyal yang kuat atau jarak dekat saja.

untuk meningkatkan kepekaan penerimaan sinyal untuk Passive Aircraft Receiver (Airband), maka diperlukan rangkaian tambahan VHF airband RF pre-amplifier.

——00——-

silakan kunjungi juga posting-posting menarik berikut:

>> Test The Speed of Flash Disk with Check Flash

>> Some Fruit That Can Sharpness Your Brain 

>> Orion Nebula, One of The Most Photographed Celestial Object 

>> Bersih-bersih Windows dengan antivirus update terbaru 

>> Manfaat buah Mangga untuk kesehatan 

>> Mengapa angry bird cepat populer & banyak di download? 

Bagi anda yang punya komputer atau laptop dengan kualitas suara biasa saja, pasti kurang puas saat digunakan untuk menonton film, memainkan lagu, atau saat bermain game. untuk itu banyak pengguna kompter kemudian mencoba menaikkan kualitas suara kelauaran komputer atau laptop, salah satunya dengan menambah speaker aktif. saat ini banyak orang yang lebih menyukai menggunakan speaker aktif untuk komputer atau laptop, umumnya sistem sederhana 2.1 channel dengan merk Polytron, Simbadda, Altec Lansing, Genius, Edifier, dll. tata suara 2.1 channel mempunyai  arti: menggunakan 2 speaker satelit ditambah 1 spekaer subwoofer. seperti contoh pada foto di bawah ini:

image: Edifier C2 plus

sistem speaker aktif 2.1 memang tidak buruk, akan tetapi masih tidak bisa menampilkan image suara surround yang biasanya dibutuhkan untuk mengeluarkan efek-efek suara 3 dimensi saat menonton film atau bermain game. sistem tersebut masih bisa diupgrade dengan mengubahnya menjadi surround home theatre 4.1 (4 speaker satelit ditambah 1 speaker subwoofer).

semua yang saya bahas disini adalah Home Theatre system analog sederhana dan bukan digital. salah satu ciri khas sistem analog adalah selalu menggunakan input sumber double channel (stereo L dan R).

saya mencoba membahas Home Theatre yang sederhana dan mudah dibuat, bukan system delay yang relatif lebih rumit dan sulit dibuat. metode yang sangat saya sarankan ini termasuk mudah dibuat sendiri: home theatre ini merupakan modifikasi dari simple “Hafler” Surround-Sound Matrix (Home Theatre 4.0 channel dan tanpa decoder). modifikasi ada pada penambahan subwoofer channel dan komponen tambahan berupa elco dan resitor untuk speaker surround belakang. rangkaian dan konfigurasi dapat dilihat dalam skema berikut ini:

klik untuk memperbesar gambar (di tab baru)

speaker-speaker yang digunakan:

subwoofer untuk deep bass,  full range speaker (untuk surround rear speaker),  full range speaker (untuk front speaker). gunakanlah speaker subwoofer (bukan speaker woofer) untuk channel subwoofer dan speaker full range untuk speaker satelit. speaker full range bisa juga diganti dengan kombinasi speaker tweeter dan woofer.

salah satu contoh foto speaker subwoofer:

image: wikipedia

salah satu contoh foto speaker full range:

image: europe-audio

khusus untuk bagian subwoofer filter, amplifier subwoofer, dan box subwoofer, silakan baca posting saya yang berjudul “membuat box speaker subwoofer desain sendiri” dengan klik DISINI.

Polaritas speaker

polaritas speaker sangat penting dalam Home theatre system, karena berkaitan dengan fase frekuensi suara yang dihasilkan speaker. berhatikan bahwa ground selalu dihubungkan dengan kutub negatif speaker, kecuali untuk speaker belakang (surround rear speaker) karena ada rangkaian khusus disana.

Penempatan Speaker dalam ruangan yang disarankan bisa dilihat dalam gambar dibawah ini:

Home Theatre ini masih perlu disetting untuk kalibrasi nada lewat tone control di power amplifier speaker satelit, juga kalibrasi volume subwoofer, dan kalibrasi frekuensi subwoofer, agar terjadi keseimbangan dalam semua channel speaker.  Home Theatre ini bisa juga digunakan untuk perangkat audio lainnya seperti: Netbook, tablet PC, Ipad, Ipod, DVD player, MP4 player, MP3 player, FM stereo receiver, Walkman, stereo TV, Smartphone, Handphone, dll.

——-00——–

 silakan kunjungi juga posting-posting saya lainnya:

>> 2 bulan berturut earning Triond saya tembus 10$

>> Menulis artikel singkat bisa dapat dollar tiap bulan?

>> Buat sendiri aneka macam audio amplifier 

>> Apakah seri Intel HD Graphics bagus buat game? 

>>  Benarkah gabung di situs Survey online, kita akan dibayar?

>>  Keenion KDM-219 Headset Game yang murah tapi tidak murahan

>> Membuat aneka macam Booster antena UHF (UHF preamplifier)

Beberapa tahun yang lalu saat VCD/DVD player masih booming, sambil mengisi waktu luang saya dengan dibantu kakak saya, sama-sama membuat box speaker Subwoofer. sistem Subwoofer ini memang saya tujukan untuk melengkapi sistem amplifier saya yang masih kurang di nada bass (nada rendah). secara komplet, sistem amplifier yang saya rancang terdiri dari 2 speaker woofer untuk bass kiri kanan, 2 speaker tweeter untuk treble kiri kanan dan 1 speaker subwoofer untuk nada bass rendah. hasilnya cukup lumayan, walaupun buatan sendiri. sistem ini sudah saya ujicoba untuk komputer saat main game 3D FPS. efek suara dalam game seperti: suara tembakan tank, ledakan granat, ledakan bom serasa open dan berdentum. mantap kalau main game pake sound system seperti ini. kalau ingin beli jadi juga bisa, pilih speaker aktif yang dilengkapi dengan speaker subwoofer.
tapi kalau saya sendiri, lebih puas kalau merakit dan bereksperimen sendiri akan tetapi hasilnya juga ada. selain itu sistem amplifier yang sudah kulengkapi dengan Subwoofer juga sudah saya pakai untuk memperkuat sound keluaran dari MP4, DVD player, PC, dan laptop.

pada waktu itu saya sama sekali tidak punya pengetahuan membuat box speaker, tetapi lebih ke “trial & error”. pengalaman pertama membuat box speaker dengan kayu lunak hasilnya buruk sekali, suara bass tak keluar malah suara noise yang berlebihan karena kayu tidak kuat menahan getaran speaker. ternyata ada beberapa hal yang mempengaruhi hasil akhir suara yang dihasilkan oleh box speaker Subwoofer.

  1. sistem active crossover (subwoofer filter) atau low pass filter
    pada awalnya saya mencoba beberapa rangkaian subwoofer filter atau tapis subwoofer tetapi yang paling pas adalah rangkaian subwoofer filter yang dilengkapi dengan pengatur frekuensi.
    pengatur frekuensi digunakan untuk menentukan output nada rendah yang diinginkan dari frekuensi antara 20 Hz sampai 75 Hz.
    pemilihan frekuensi untuk Subwoofer umumnya berkisar antara 20 Hz sampai 100 Hz, dan frekuensi bass diatas 100 Hz lebih cocok ditangani oleh speaker Woofer.  skema rangkaian elektronika dan PCB dari Filter Subwoofer (Low Pass Filter) yang dilengkapi dengan kontrol frekuensi dapat dilihat dengan klik DISINI.
  2. jenis kayu untuk box
    kayu yang paling bagus menurut saya adalah kayu jati yang keras dan permukaannya sudah dihaluskan.
  3. speaker yang digunakan di box Subwoofer harus khusus jenis speaker Subwoofer dan bukan speaker Woofer.
  4. output dari rangkaian subwoofer filter harus diumpankan ke power ampilifier yang mempunyai daya yang mencukupi dan tidak melebii spesifikasi daya maksimum speaker. misal jika menggunakan speaker Subwoofer dengan daya maksimum 200 W maka bisa dipakai power amplifier dengan daya 150 W.

Rancangan Box yang saya desain
box yang saya buat tidak didasarkan pada peritungan teoritis, akan tetapi menggunakan “feeling” ukuran yang saya nilai pantas.
jika kamu menginginkan box yang lebih tertib, silakan pergunakan panduan dan perhitungan ukuran pembuatan box subwoofer yang banyak beredar di internet. saya mengambil desain box dengan jenis box berventilasi karena alasan sederhana dan mudah untuk dibuat. spesifikasi dari box yang saya buat bisa dilihat di gambar.
berikut ini adalah ukuran-ukuran yang ada dalam rancangan box subwoofer saya sendiri:
desain box ini tidak di khususkan untuk penggunaan di mobil, box semacam ini hanya cocok untuk audio sistem rumahan yang biasanya dipergunakan untuk DVD media player, Komputer, ataupun game console. sebenarnya box subwoofer mempunyai aneka desain baik itu untuk car audio, speaker active, multimedia, maupun Home theater, untuk mengenal macam-macam box subwoofer silakan klik DISINI.

Silakan baca juga posting saya lainnya yang berjudul  “Membuat surround home theatre untuk komputer atau laptop” dengan klik DISINI. dalam posting tersebut saya membahas tentang Surround Home Theatre yang sederhana dan bisa digunakan untuk beragam sumber audio seperti: komputer, TV, MP4 player, DVD player, dll.

Salah satu contoh speaker aktif sistem 2.1 di pasaran yang dilengkapi dengan Box Subwoofer tipe ported adalah Altec Lansing VS 4621, silakan simak pembahasannya dengan klik DISINI.

Oke, kembali ke topik……  inilah Spesifikasi speaker Subwoofer yang saya gunakan:  Bossini 6 1/2 inch BS-6522 Max Power 200 W impedance 4 ohms Double coil high performance.
spesifikasi Power amplifier: 150 W OCL amplifier
spesifikasi Filter Subwoofer: Filter subwoofer dengan 20 – 75 Hz Frequency control.


——00——

kunjungi juga artikel & link menarik berikut ini:

>> DIY homemade portable speaker for gadget 

>> Lamborghini Gallardo in Circuit de Spa Francorchamps (Real Racing 3)

>> Pengalaman saya  beli online jam tangan di Ebay

>> Membuat Powerbank dengan baterai AA 1,5 Volt

>> Bukti bayaran Ipanelonline di 2014

>> Play Game Grid 2 with low end laptops

>> 10 Most Beautiful Island in Indonesia

>> Simple Stereo Amplifier Lm 379 with Bass Boost

Dalam posting ini, saya mencoba menunjukkan beberapa desain UHF preamplifier (UHF booster) yang simple dan mudah dibuat.
UHF preamplifier ini bisa dianggap sederhana karena hanya mempunyai komponen aktif 1 transistor atau dengan 2 transistor.
berikut adalah rangkaian-rangkaian tersebut:

1. UHF preamplifier dengan transistor C3355 atau C3358
komponen transistor yang digunakan bisa dengan tipe C3355 atau bisa juga diganti dengan C3358.

gambar rangkaian dan penjelasan secara lebih detail bisa dilihat dengan klik DISINI.

2. UHF preamplifier dengan transistor MPSH10
komponen transistor yang digunakan bisa dengan tipe MPSH10.
gambar rangkaian dan penjelasan secara lebih detail bisa dilihat dengan klik DISINI.

3. UHF preamplifier dengan 2 transistor BF197
Booster antena ini menjangkau jalur VHF-UHF 40-500MHz
gambar rangkaian dan penjelasan secara lebih detail bisa dilihat dengan klik DISINI.

4. UHF preamplifier dengan transistor BSX20 atau 2N2369
rangkaian ini adalah VHF/UHF wideband Preamp oleh ON6MU
gambar rangkaian dan penjelasan secara lebih detail bisa dilihat dengan klik DISINI.

5. UHF preamplifier dengan transistor C2570
preamplifier dapat menjangkau jalur VHF, UHF  sampai 3000 MHz.
gambar rangkaian dan penjelasan secara lebih detail bisa dilihat dengan klik DISINI.

6. UHF preamplifier dengan transistor BFR90 atau BFR91 atau BFW92
circuit ini dibangun dengan transistor (UHF low signal device) BFW 92.
transistor ini dapat ber0perasi di frekuensi yang tinggi sekitar 1.6 GHz, dan gain 23 dB.
gambar rangkaian dan penjelasan secara lebih detail bisa dilihat dengan klik DISINI.

silakan kunjungi juga artikel-artikel berikut ini:

>> Benarkah gabung di situs Survey online, kita akan dibayar? 

>> Membuat sendiri Antenna TV UHF 

>> Tanaman hias favorit masyarakat indonesia

>> Aneka macam antenna wifi untuk nembak hotspot atau RTRWnet

>> Buat sendiri aneka macam audio amplifier 

>> Cara membuat adaptor, power supply, charger handphone (gadget) 

Booster, Preamplifier atau penguat sinyal, mungkin masyarakat sudah banyak yang kenal terutama untuk Booster TV. biasanya banyak yang kurang puas kalau antena TV nya tidak dilengkapi dengan Booster.

bagi yang suka eksperimen atau hobby elektronika, silakan coba saja proyek elektronika yang satu ini. rangkaiannya tidak terlalu rumit. lumayan kalau jadi kan bisa dimanfaatkan untuk antenna TV UHF di rumah.

UHF antena booster ini dapat digunakan untuk tujuan penerimaan yang lebih baik, terutama jika Anda jauh dari stasiun TV / pemancar relay.   booster antena UHF ini bekerja di kisaran 400-850 MHz.
Berikut ini adalah diagram rangkaian booster antena UHF:

Rangkaian hanya menggunakan satu transistor, dengan penguatan antara 10 hingga 15 dB, cukup lumayan untuk banyak situasi.
Bagian paling penting adalah bahwa sirkuit transistor harus terlindung dari sirkuit input, seperti ditunjukkan dalam diagram skematik oleh garis putus-putus (metal shield/pelindung logam). hal ini bertujuan untuk menghindari interferensi.
rangkaian ini dicatu dari power supply yang terpisah melalui kabel sinyal (sistemnya mirip dengan booster UHF yang dijual ditoko, yaitu power supply diletakkan di dalam rumah atau di dekat TV ),  karena rangkaian booster ini harus sedekat mungkin dengan antena. Hal ini sangat penting karena amplifier harus memperkuat sinyal yang diperoleh oleh antena, bukan noise yang ditangkap oleh antara kabel antena dan rangkaian.
Antena dan rangkaian booster dapat dipasang di atas atap rumah Anda. 75 ohm Panjang kabel koaksial dapat digunakan dari output rangkaian booster ini ke unit power supply yang berada dekat dengan TV.

konstruksi power supply sangat sederhana, digunakan sebuah induktor 50-100 uh atau RF choke antara kabel output dan catu daya.
kapasitor keramik kecil 100pF digunakan untuk memblokir tegangan DC dari power supply. Sesuaikan P1 untuk mendapatkan penerimaan yang terbaik, dan hal ini untuk mengatur konsumsi arus saat digunakan yaitu sekitar 5-15 mA.

catatan:

tipe transistor yang disarankan disini adalah transistor 2SC3358, tetapi apabila susah didapat maka bisa diganti dengan yang tipe 2SC3355. biasanya tipe 2SC3358 mempunyai penguatan yang lebih bagus dari 2SC3355.

silakan kunjungi artikel-artikel saya lainnya:

>> Benarkah gabung di situs Survey online, kita akan dibayar?

>> 8 tips menghemat tagihan listrik

>> Air terjun Niagara, kawasan alami yang menyehatkan

>> 10 manfaat buah semangka untuk kesehatan

>> Membuat sendiri antenna UHF tipe Helical

>> Istilah Populer pada Notebook: Centrino, Core Duo, Core 2 Duo, Dual core, Celeron

>> Bukti pasif income dari menulis di situs Triond